Kini Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan….

jendela

Kini sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tanpa terasa sudah dua puluh lima hari ‘ia’  menemani kita. Meski kita sering mengacuhkan, toh ‘ia’ dengan kesabaran penuh tetap menunggu agar kita masih sudi membuka hati kita padanya. Meski kita mungkin sudah tidak sabaran menunggu ‘ia’ pergi, ‘ia’ dengan senyum tetap menunggu kita memeluknya. Meski kita mungkin membiarkan ia menunggu didepan rumah, tapi dengan penuh kesabaran ‘ia’ tetap selalu berharap agar ‘ia’ diizinkan memasuki rumah kita – untuk memberi kehangatan dan keberkahan. Ramadhan akan segera meninggalkan kita, tapi toh kita masih banyak terlambat menyadarinya. Tapi ‘ia’ tetap tersenyum.

Kini sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ramadhan akan segera meninggalkan kita semua. Mushola dan masjid kini telah mulai sepi. Kegiatan yang dibungkus dengan label-label Islami mulai jauh berkurang dibandingkan dengan sepuluh hari pertama ramadhan. Hanya beberapa segelintir kecil yang masih istiqomah. Kegiatan-kegiatan seperti pesantren Kilat,  Diskusi Ramadhan, Tadarus Al-Quran, dan seterusnya mulai ditinggalkan, seolah-olah kita sudah cukup dengan amal kita yang sepuluh hari itu saja. Atau jangan-jangan kegiatan itu hanya sekedar mengikuti trend atau proyek saja, seperti  kita yang muslimah mengikuti tren artis berkerudung, tapi hanya dibulan Ramadhan saja, yang kemudian itu akan dilemparkan entah kemana begitu ramadhan pergi. Tapi ‘ia’ tetap tersenyum.

Kini sepuluh hari terakhir Ramadhan. Suara orang tadarus di masjid-masjid mulai berkurang intensitasnya, kalah jauh dengan intensitas tawa dan sukacita televisi yang mulai dari pagi hari hingga pagi hari lagi masih tetap ‘istiqomah berjihad’ membela ketidak benaran. Suara koor ‘amiin…’ tatkala imam selesai membaca al-fatihah, kini gemanya melemah memantul dinding, seolah hampir tidak terdengar lagi. Semua itu berangsur-angsur menghilang tanpa ada yang peduli dan menyadari. Atau sebenarnya banyak juga yang menyadari tapi tidak mau peduli. Atau banyak juga yang peduli tapi tidak mau sadar. Tapi ‘ia’ tetap tersenyum.

Kini sepuluh hari terakhir. Keramaian mulai berpindah arah tapi tetap terfokus. Fokus ke arah pertokoan, kearah mall, kearah pusat perbelanjaan. Semua diliburkan, semua dicutikan, hanya agar semua kita dapat dengan ‘ikhlas’ dan ‘tawakal’ mengayunkan langkah menuju titik fokus itu, ‘beritikaf’ disana. Bahkan cuti dari tarawih, sekali-kali tidak-apa, toh hari raya kan cuma setahun sekali. Kalau diperlukan, puasa pun tidak apa-apa kita gadaikan, toh nanti kan bisa dibayar. Meski diperlakukan seperti, ‘ia’ tetap tersenyum.

Kini sepuluh hari terakhir. Kaum muslimin bersuka cita menyambut hari kemenangan. Banyak yang beranggapan dan mengatakan, ah, akhirnya ramadhan usai dan berakhir juga belenggu ini. Meski dianggap sebagai belenggu dan penghalang kebebasan,  ‘ia’ masih tetap tersenyum.

Kini sepuluh hari terakhir. Tinggal sembilan orang yang berjamaah tadi. Dengan formasi  1 – 5  – 3.  Kita kalah. Yang lain sibuk, mempersiapkan diri menghadapi ‘kemenangan’. Kemenangan? Yah, hari kemenangan hawa nafsu atas manusia. Lha, apa ini bukan kekalahan?  Cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya diuji. Cinta yang sinarnya akan mematikan api kegelisahan kalah oleh keinginan dan kuasa nafsu kita. Untuk orang-orang yang kalah ini,  ‘ia’ tetap tersenyum.

Kini, sepuluh  hari terakhir. Mendekati garis akhir perlombaan. Banyak yang berlomba-lomba membangun rumah agar rumahnya terlihat besar dan indah ketika didatangi kolega sewaktu hari raya, tetapi ia lupa; bahwa inilah saatnya untuk membangun rumah yang benar-benar miliknya nanti di syurga. Banyak yang menata ruangan agar kelihatan bersih dan asri, tetapi ia lupa  jika pada Ramadhan inilah saat yang tepat untuk  menata hati agar tidak ada tempat bagi rasa iri, riya, syirik, hasad dan sifat-sifat lain yang tercela. Untuk orang-orang yang lupa ini, ‘ia’ masih tetap tersenyum.

Kini sepuluh hari terakhir. Tinggal sepenggal do’a,  semoga Ramadhan  bisa memberikan kekuatan yang besar dalam hidup kita untuk berubah menjadi benar dan lebih baik. Karena Ramadhan memang tidak akan pernah pergi. Sungguh, ia tidak akan pergi. Ramadhan akan tetap ‘tinggal’ bersama mukmin yang taat dan ikhlas dalam menjalankan syariatNya.  Ramadhan akan tetap ‘tinggal’ dihati orang-orang mukmin yang taat dan ikhlas menjalankan sunnah-Nya. Ramadhan akan tetap ‘tinggal’ di jiwa orang-orang mukmin yang selalu setia menemaninya hingga bulan tampak di ufuk, penanda Syawal tiba. Untuk orang-orang mukmin ini, Ramadhan akan memberikan segalanya. Amiin…

Ba’da Zuhur, 25 Ramadhan 1430 H

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: