Qiyamul Lail (4) : Bagaimana Orang Terdahulu Melakukannya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Tulisan kali ini melanjutkan keutamaan-keutamaan qiyamul lalil sebagaimana tulisan sebelumnya Qiyamul Lail (3) : Ada Apa Dengan Qiyamul Lail 8 ~ 16.  Berikut beberapa nukilan dari banyak kitab/buku; bagaimana para pendahulu kita, barisan orang-orang sholeh untuk menegakkan qiyamul lail, berisikan juga bagaimana mereka-mereka mensiasati keadaan agar istiqomah dalam melaksanakan qiyamul lail ini.

*****

Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa tatkala orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu justru mulai bangun untuk shalat tahajjud, sehingga terdengar seperti suara dengungan lebah (yakni Al-Qur’an yang beliau baca dalam sholat lailnya seperti dengungan lebah, karena beliau membaca dengan suara pelan tetapi bisa terdengar oleh orang yang ada disekitarnya), sampai menjelang fajar menyingsing.

*****

Fudhail bin ‘Iyadh pernah mengatakan,

”Aku dapati suatu kaum yang merasa malu kepada Allah dalam kegelapan malam jika banyak tidur. Tidur mereka hanyalah sekedar di sisi tubuhnya saja. Maka, bila tubuhnya bergerak, ia akan berkata,’Yang satu ini bukan bagianmu, bangunlah dan ambillah bagianmu untuk akhirat”. (Shifatush shafwah, II)

*****

Imam Abu Hanifah, pada awalnya hanya menghidupkan separuh malamnya. Hingga pada suatu hari ia melewati kaumnya.

Mereka berkata,”Orang ini (yakni Abu Hanifah) menghidupkan malamnya semuanya.”

Maka, Abu Hanifah berkata,”Sungguh aku sangat malu jika aku disebut-sebut dengan sesuatu yang tidak aku lakukan”. Lalu setelah itu ia selalu menghidupkan seluruh malamnya”. (Abdul Malik Al-Qasim, Yang Mereka Lakukan di Tengah Malam, Pustaka At Tibyan: Solo)

*****

Abdullah putra Imam Ahmad bin Hanbal, bertutur,

”Setiap hari, ayahku mampu membaca Al Quran selama 7 hari. Beliau senantiasa mengkhatamkan al Quran selama 7 malam, selain yang beliau baca pada sholat-sholat di siang hari. Sesekali, beliau sholat di pertengahan malam, lalu tidur sebentar, kemudian melanjutkan sholat hingga subuh. Beliau isi malam tersebut dengan sholat dan berdoa”. (Hilyatul Awliy’, IX)

*****

Abdhus Shamad bin Sulaiman bin Abi Mathar pernah bermalam di rumah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ia menuturkan, ”Aku pernah bermalam di rumah Imam Ahmad bin Hambal. Maka beliau (Imam Ahmad) meletakkan air untuku. Saat waktu subuh tiba, beliau mendapati air tersebut tidak aku gunakan. Maka beliau berujar,”Seorang ahli hadits tidak memiliki wirid di malam hari?” Aku berkata, “Aku sedang musafir.” Beliau berkata,”Meski engkau tengah musafir. Masruq pernah melaksanakan ibadah haji, dan ia tidak pernah tidur, melainkan dalam kondisi sujud”. (Dr. Sayyid bin Husain Al-‘Affani, Sadatul Mutahaddijn).

*****

Bisyr bin Harits Hafi, ia senantiasa melaksanakan qiyamullail semalam suntuk. Suatu ketika, ia ditanya, ”Tidakkah anda beristirahat sejenak?”.

Ia menjawab, ”Sungguh Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wasallam menunaikan qiyamullail sampai kedua kaki beliau bengkak, padahal Allah Subhana Wa Ta’ala telah mengampuni kesalahannya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Bagaimana mungkiun aku bisa tidur dengan meninggalkan qiyamullail, sementara aku tidak tahu satupun dosaku yang akan diampuni Allah”. (Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Ali ‘Abdullah, Kaifa Tatahammas li Qiyamullail)

*****

Rasa takut dan khawatir Rabi’ bin Khaitsam bila tertimpa azab Allah saat tertidur lelap telah mendorongnya untuk tidak tidur dan memilih bermunajat dengan Allah dengan sholat malam. Hal tersebut disampaikan kepada ibundanya, saat sang ibu bertanya kepadanya,

“Wahai nak, tidakkah kamu tidur?”

Ia menanggapi, ”Wahai ibunda, siapakah yang bisa tidur saat malam tiba, padahal dirinya takut serta khawatir datangnya azab Allah secara tiba-tiba, saat ia tidur malam?” (Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Ali ‘Abdullah, Kaifa Tatahammas li Qiyamullail)

*****

Cara yang lebih ekstrim dilakukan oleh Abu Muslim Haulani yang terbiasa menunaikan qiyamullail. Saat ia merasa malas dan fisiknya melemah untuk bangun atau cenderung lalai dan ingin tidur, maka ia segera mengambil cambuk dan memukul kedua betisnya layaknya seseorang yang tengah mendidik diri sendiri seraya berkata, ”Demi Allah, wahai jiwaku, kamu itu lebih patut untuk dipukul daripada binatang ternak yang paling hina.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia berkata kepada dirinya sendiri,”Bangunlah untuk beribadah kepada Rabbmu. Demi Allah, aku akan memforsir diri, meski harus merangkak untuk memaksamu. Sehingga, yang lemah sebenarnya adalah kamu, bukan aku. Oleh karenanya, kamu lebih layak dipukul daripada binatang ternak. Sebab, kamu dilengkapi sarana akal dan banyak berkilah”. (Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Ali ‘Abdullah, Kaifa Tatahammas li Qiyamullail)

*****

Ahmad bin Harb pernah mengatakan,”Aku merasa heran kepada seseorang yang mengetahui bahwasanya surga dihiasi dengan hiasan diatasnya dan neraka dinyalakan dibawahnya, bagaimana ia bisa tidur nyenyak di antara surga dan neraka?” (Sadatul Mutahajiddin Riajul Lail).

*****

Abu Ishaq as Suba’i berkata,”Aku tidak bisa mengerjakan sholat dengan sempurna. Tulangku telah melemah. Sekarang, aku mengerjakan sholat hanya mampu membaca surat al Baqarah dan Ali Imran”. Abu Ishaq tidak mampu berdiri sendiri. Setiap kali mau sholat, dia harus diberdirikan. Sehingga ketika ia berdiri ia membaca seribuan ayat. (Tadzkirah al Huffazh, Adz Dzahabi)

*****

Ketika Rayyah Al Qassi menikahi seorang wanita, dan ketika pagi telah menyingsing, istrinya baru bangun.

Rayyah berkata, “Andaikan engkau ingin melihat wanita yang kurang bagus maka sesungguhnya engkau sudah cukup menjadi contoh”.

Ungkapan ini untuk mendidik dan memotivasi istrinya agar mau bangun dan sholat malam. Ketika malam tiba, Rayyah pura-pura tidur untuk menguji istrinya kembali. Maka diseperempat malam, si isteri bangun lalu memanggil,”Wahai Rayyah, bangunlah.”

Rayyah menjawab,”Aku akan bangun.” Namun ia tidak bangun.

Kemudian si siteri bangun lagi pada sepertempat yang lain dan berkata,”Wahai Rayyah, bangunlah.”

Rayah menjawab,”Aku akan bangun.” Namun, ia tetap tidak bangun.

Lalu, isterinya bangun pada waktu seperempat yang lain lagi dan berkata,”Wahai Rayyah bangunlah.”

Rayyah menjawab, “Aku akan bangun.”

Istrinya berkata, ”Malam telah lewat dan orang-orang yang baik telah mengumpulkan bekal, sementara engkau masih terlelap dalam tidur. Duh, celakanya aku karenamu wahai Rayyah. Engkau telah menipuku”.

Lalu si isteri bangun dan melaksanakan sholat pada seperempat malam yang tersisa”. (Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Ali ‘Abdullah, Kaifa Tatahammas li Qiyamullail).

*****

Istri Habib Al’Ajmi bin Muhammad terbangun pada suatu malam ketika Habib masih tertidur lelap, sehingga Habib terbangun karenanya. Maka, istrinya berkata,”Bangunlah wahai Habib, sungguh malam telah pergi dan siang akan datang, sedang didepanmu terbentang jalan yang sangat jauh, sementara bekalmu sangat sedikit. Rombongan orang-orang sholeh telah berlalu mendahuluimu, sementara kita masih tetap berada ditempat kita”. (Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Ali ‘Abdullah, Kaifa Tatahammas li Qiyamullail).

*****

Syahdad bin Aus ketika berangkat menuju pembaringannya, maka Ia hanya berbolak-balik di atas tempat tidurnya dan rasa kantuk tak kunjung datang. Ia berkata,”Ya Allah, sesungguhnya (ingat) neraka telah menghilangkan rasa kantukku”. Lalu ia bangkit dan sholat malam hingga subuh. (Sadatul Mutahajiddin Riajul Lail).

*****

Mu’adzah al Adawiyah (murid Aisyah) pada malam setelah menikah, dia bersama suaminya Shillah bin Asyim al ‘Adawi bangun untuk mengerjakan sholat hingga fajar. Ketika suami dan anaknya gugur di medan jihad, dia menghidupkan sepanjang malam dengan sholat, ibadah dan doa. Dia tidur sejenak di waktu siang. Apabila mengantuk pada saat mengerjakan sholat malam, dia berkata pada dirinya,”Wahai diriku, kelak engkau akan tidur, bukan sekarang”. Shiffah Ash Shofwah, Ibnul Jauzi

Tulisan ini merupakan sebagian dari tulisan tentang qiyamul lalil, merupakan materi yang disampaikan pada taklim di Rohis 8 Pekanbaru. Karena permintaan ‘seseorang’ maka tulisan ini diupload di blog sederhana ini. Kiranya bisa bermanfaat bagi yang memerlukan.

Manusia tempat khilaf dan lupa, maka jika ada Koreksi, masukan/saran dan perbaikan mohon hubungi yang menyusunnya atau email : ersis@ymail.com atau @rudisisyanto atau ke SMAN 8 Pekanbaru

Demikianlah.,…

About these ads

2 Tanggapan

  1. sangat bermanfaat….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: