Kematian, Sungguh Ada Pelajaran Berharga …

Sma Negeri 8 Pekanbaru berduka. Salah seorang anggotanya dipanggil kembali menghadap-Nya. Selasa, 22 Juli 2008. Waktu dhuha. Bapak (alm) Drs. Hamdani Az, suami dari Ibu Amelia Yanti (guru Bahasa Indonesia) kembali menemui-Nya, setelah diberi alokasi waktu di dunia selama lebih kurang 18896 hari atau + 2700 pekan. Meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, dan juga kita. Untuk bersiap-siap menyusulnya.
Innaa lillahi wa innaa ilayhi rooji’uun…

Banyak orang baik yang sudah pulang, kemarin pagi, dalam redupnya senja, dalam pelukan malam. Pulang dengan tenang bahkan terkadang tanpa pesan. Tinggalkan selembar nama, seribu kesan, sejuta kenangan. Dan kita masih tetap disini, dengan memelihara pelita cahaya yang ada yang pernah kita nyalakan. terus menjalani hidup, menapaki lorong-lorong waktu dan menembus belukar fitnah dan ujian. Terus menatap dan berharap, sampai perjalanan ini benar-benar berakhir. Bukankah ketika kita menatap ke depan, ketika itu pula kesempatan hidup kita pun terus berjalan dan memperpendek jarak hidup kita yang ada batasnya. Ketika kita harus melabuhkan jangkar kita entah di di kilo meter keberapa, ketika kita telah melihat bahwa rasi bintang di cakrawala telah menunjukkan kita sudah sampai di muara.

Orang baik telah pulang, seperti angin yang mengibaskan hujan, seperti hujan menggores pelangi. serupa percikan gelombang memecah pecah lambung sampan.tanpa terasa. tanpa diduga.
Lantas, apa yang kita lakukan saat ini?

Kematian adalah pengingat. Bagi siapa saja yang masih punya rasa. Ia bisa merekatkan yang jauh, melebur yang berseteru, menggugah yang tidur, bahkan kematian selalu melahirkan cinta pada sisi-sisi lainnya.

Kematian adalah suatu jalan menuju akhirat. Kampung tempat segalanya berkesudahan. Mengakhiri jalan panjangnya manusia. Rumah penghabisan, tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang, lalu ditunaikan hak orang-orang yang punya hak. Serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang.

Kematian adalah tempat pertemuan. Nun disana. Kita akan bersua. Seperti air sungai yang mengalir berliku, kesana pula bermuara pada akhirnya. Akhirat bukan sekedar tempat berkesudahan yang terpaksa. Atau tempat pembuangan segala isi alam semesta. Ya, pada ketetapan Allah, taqdir dan kuasa-Nya, tak ada yang bisa lari dari akhirat.

Orang yang ‘arif, selalu ingat kematian karena kematian adalah janji pertemuannya dengan kekasihnya. Pecinta tidak akan pernah lupa akan janji pertemuan dengan kekasihnya. Yang telah ditulisnya dengan pena kerinduan dan tinta air mata. Pada ghalibnya orang ini menganggap lambat datangnya kematian dan mencintai kedatangannya untuk membebaskan diri dari kampung orang-orang yang bermaksiat dan segera berpindah ke sisi Tuhan alam semesta.

“Cukuplah dengan adanya kematian sebagai penasehat (bagi kita).”

Dengan segala kerendahan hati, penuh pengharapan, mari kita lantunkan sepenggal do’a, ”Ya Allah, kami memohon kepada Engkau keselamatan dalam agama, kesehatan badan, keberkahan rizki, taubat sebelum ajal, kasih sayang saat ajal, ampunan setelah mati. Ya Allah, mudahkanlah bagi kami saat sakaratul maut menghadap, ampunan ketika hari penghitungan, dan selamat dari api neraka.”

Semoga kita diwafatkan oleh Allah swt dalam kondisi kening mengeluarkan keringat dingin sebagai wujud pertaubatan sejati dan penerimaan Allah Subhana Wa Ta’ala, insya Allah, amin ya Mujibas sa’ilin.

Satu Tanggapan

  1. keren pakkk

    keren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: