Ujian, Menyontek dan Kita ….

Kalender akademik SMAN telah dibagikan, tanggal 4 s.d. 9 Agustus adalah saat Ulangan Harian Pertama. Memang rutinitas, Ulangan Harian, Remedial dan seterusnya, tidak ada yang berubah. Seperti Menyontek misalnya, bukankah atau jangan-jangan sudah menjadi rutinitas?.

Menyontek adalah mencontoh, meniru, atau mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. Alhadza (2004) mengutip pendapat Bower (1964) yang mengatakan bahwa menyontek sama dengan cheating yaitu perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis. .

Menyontek, yang merupakan perkara memindahkan jawaban teman ke dalam kertas jawaban kita dengan proses yang cepat atau perlahan dan bisa seizin atau tanpa izin yang bersangkutan, adalah merupakan perbuatan curang atau penipuan..

Mengapa menyontek termasuk kepada perbuatan penipuan?
1. Penipuan kepada diri sendiri, seseorang yang menyontek tidak akan mengetahui sejauhmana kepintarannya, sejauhmana kemampuannya dalam memahami suatu permasalahan. Menyontek berarti mempersiapkan diri untuk tidak mau diperbaiki, karena jika ‘kadar kepintaran’ kita terdeteksi oleh guru, maka sang guru akan berupaya bagaimana meningkatkan kadar kepintaran tersebut. Ia akan terjebak, Bukankah kesialan di dunia ini adalah ketika kita tidak tahu siapa kita sebenarnya? .

2. Penipuan kepada teman, karena orang yang menyontek kita dapati jarang yang mengaku sehingga jika di tanya “Gimana tadi ujiannya?” dia menjawab “Lancar” padahal sebagian temannya tahu kalau dia tadi ketahuan menyontek tapi dia mengatakan yang sebaliknya. Dan terkadang diselipkan kata-kata hamdalah. “Alhamdulillah, bisa!” Memang bisa? Maka ketahuilah, dia telah berbohong !!! Karena tabiat manusia tidak suka jika kekurangannya di ketahui oleh orang lain sekalipun dia harus menutupinya dengan tabir gelap kebohongan yang besar, namun ada kalanya seseorang yang terbiasa menyontek akan dengan bangga menunjukkan bahwa ia telah berhasil ‘mengelabui’ semuanya, padahal siapakah yang bisa lepas dari pengawasan-Nya? Bahkan ketika hasil ujian diumumkan, kita tanpa merasa bersalah membanggakan nilai ujian kita di depan teman-teman. .

3. Penipuan kepada guru, karena penyontek tidak menjawab dengan pikirannya sendiri sehingga guru menganggap bahwa jawabannya adalah hasilnya sendiri. Bukankah guru harus berfikiran positif atas jawaban siswa? Secara umum, jawaban yang sama antara satu siswa dengan siswa lain tidak bisa mengindikasikan sepenuhnya kalau mereka saling menyontek. Tapi secara khusus, jika ada 2 siswa yang duduk bersebelahan ketika ujian, baik kanan-kiri atau muka-belakang atau diagonal, jawaban dari mereka sebagian besar sama atau bahkan semuanya sama maka bisa mengindikasikan kalau mereka menyontek. Hal itu akan terlihat lebih jelas lagi ketika ujian essay..

4. Penipuan kepada orang tua, karena banyak orang tua berpesan kepada anaknya yang menuntut ilmu untuk senantiasa berbuat baik. Dan apakah menyontek termasuk perbuatan baik? Tentu saja jawabannya “tidak” dan hanya orang bodohlah yang mengatakan “kalau menyontek itu perbuatan baik”. Begitu juga ketika hasil belajar diberikan orang tua, maka wali kelas/guru akan memberikan nilai-nilai hasil penipuan siswa tersebut kepada orang tuanya. .

5. Penipuan kepada universitas, bukankah nilai yang kita peroleh sewaktu ujian akan digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke universitas. Jika nilai yang tertera di rapor dibuat karena menyontek, maka ‘nilai rapor’ kita sebenarnya palsu, dan itu yang kita berikan kepada universitas atas nama kita..

6. Penipuan kepada tempat tempat bekerja. Rantai selanjutnya yang tertipu adalah tempat pekerjaan kita, tempat kita mencari nafkah nantinya. Kita dengan terlanjur bangga membawa nilai-nilai manipulatif ini ketempat kita melamar pekerjaan. Dan terkadang, tempat bekerja tidak begitu melihat dari sisi kemampuan tetapi dari sisi kognitifnya, atau minimal kita telah memenuhi persayaratan bekerja..

7. Penipuan kita kepada mertua (halah…), istri/suami, kepada anak, masyarakat dan negara. Kita terkadang terlanjur bangga dengan posisi yang kita miliki suatu saat, atau saat ini, tanpa kita sadar bahwa kita memperolehnya dengan cara yang tidak sah. Begitu juga rezeki yang kita peroleh.
Berdasarkan hal di atas, hukum menyontek dalam ujian adalah haram dan cukuplah berdosa bagi pelakunya karena perbuatan tersebut mengandung banyak unsur penipuan. .

Menurut, Dien F. Iqbal, dosen Fakultas Psikologi Unpad, seperti yang dikutip Rakasiwi (2007) orang menyontek disebabkan faktor dari dalam dan di luar dirinya. Dalam ilmu psikologi, ada yang disebut konsep diri dan harga diri. Konsep diri merupakan gambaran apa yang orang-orang bayangkan, nilai dan rasakan tentang dirinya sendiri. Misalnya, anggapan bahwa, “Saya adalah orang pintar”. Anggapan itu lalu akan memunculkan kompenen sikap yang disebut harga diri. Namun, anggapan seperti itu bisa runtuh, terutama saat berhadapan dengan lingkungan di luar pribadinya. Di mana sebagai kelompok, maka harus sepenanggungan dan senasib. Senang bersama, duka mesti dibagi. .

Dari teori-teori tentang motivasi, diketahui bahwa cheating bisa terjadi apabila seseorang berada dalam kondisi underpressure (dalam tekanan) orang lain, atau apabila dorongan atau harapan untuk berprestasi jauh lebih besar dari pada potensi yang dimiliki. Semakin besar harapan atau semakin tinggi prestasi yang diinginkan dan semakin kecil potensi yang dimiliki maka semakin besar hasrat dan kemungkinan untuk melakukan cheating. Dalam hal seperti itu maka, perilaku cheating tinggal menunggu kesempatan atau peluang saja, menurut teori kriminal, kejahatan akan terjadi apabila bertemu antara niat dan kesempatan. .

Anehnya perbuatan contek menyontek dikalangan siswa sampai saat ini masih saja ada, tidak pernah terdengar ada sanksi, skorsing, pembatalan nilai, kenaikan kelas atau kelulusan bagi siswa-siswi yang ketahuan menyontek dalam ujian. Tidak pernah ada dalam rapat orang tua, guru, kepala sekolah, pengawas, dan pembina pendidikan membicarakan masalah menyontek, sekolah seakan menutup diri, seolah-olah semua siswa-siswinya bersih dalam praktek menyontek, padahal menyontek adalah suatu perbuatan penipuan yang demikian berat..

Kalau para guru tidak bekerja keras, maka peserta ujian akan berbuat curang dan kerja sama dalam mengerjakan soa-soal ujian. Meski telah dibuat pengumuman bahwa dilarang bekerja sama dalam mengerjakan soal ujian, bahkan sanksi ujian dibacakan dimuka kelas. Peserta didik telah kebal dan tidak peduli. Sikap kejujuran telah lama mati. Dan ini akan mematikan jati diri warga bangsa.
Membangun masyarakat dan bangsa Indonesia yang padanya melekat kepribadian jujur ini tidak mudah, karena struktur sosial telah sakit sejak lama. Budaya curang itu terjadi di berbagai tempat, mulai dari lapis atas sampai lapis bawah. Matinya budaya jujur ini sejalan dengan matinya moralitas masyarakat..

Menurut Kroeber dan Kluckhon, inti budaya (cultre core) adalah learning process. Hanya manusia yang dapat melakukan proses belajar, dan hewan tidak mampu melakukan. Dengan learning process itu manusia dapat mengembangkan potensi dan kemampuan dirinya, terutama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Mengapakah perilaku curang berkembang dalam diri peserta anak didik kita dewasa ini? Dan ini mengimbas kepada perilaku masyarakat? Berarti telah terjadi kekeliruan pada learning process dalam dunia pendidikan..

Hubungan antara peserta didik dengan guru telah menjadi kosong, dalam arti semakin tidak menyentuh nilai-nilai emosional, nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai kearifan. Hubungan siswa dengan guru dewasa ini telah menjadi hubungan formal dan mencerminkan hubungan transaksional, seperti dalam dunia dagang. Kami yang menjual, kamu yang membeli. .

Pendidikan menjadi gamang dan semu. Learning process hanya menyentuh akal semata, tidak menyentuh emosi dan hati. Di sanalah masyarakat dan dunia pendidikan memberikan pujaan kepada orang yang lulus dengan nilai yang tinggi, dan tidak memuja mereka yang memiliki moralitas dan spriritualitas yang tinggi. Kondisi yang demikian ini telah membuat budaya curang itu tumbuh terus secara subur. Budaya curang tumbuh dan berkembang ibaratnya rumput disiram dengan air dan pupuk..

Ketidakjujuran dan kecurangan muncul di mana-mana dan anak-anak muda sangat mudah menemui dan mengalaminya. Mengurus KTP harus bayar. Ditilang oknum juga harus bayar. Menaikkan nilai ujian harus bayar. Mencari ijazah juga bisa dengan membayar..

Anak-anak dengan mata terbuka dapat melhat dan mencermati tindakan kecurangan dan kejahatan itu. Peserta didik akan mengalami dunia pengalaman yang penuh paradoksal dan kemunaikan. Katanya harus bersikap jujur dan mulia, kok banyak warga yang berbuat curang dan jahat. Katanya warga harus tertib, kok banyak warga yang melanggar aturan lalu lintas. Demikian juga, katanya anak-anak tidak boleh merokok, namun bapak-bapak kok senang merokok. Katanya anak-anak tidak boleh terlambat, namun bapak dan ibu kok sering terlambat. Katanya anak-anak harus mengumpulkan tugas tepat waktu, namun bapak dan ibu kok sering terlambat memeriksa ujian anak-anak. Katanya anak-anak tidak boleh alpa, tapi dengan mudahnya bapak dan ibu berkata kalau bapak/ibu tidak bisa masuk karena ada mengisi penataran, karena itu kalian di dalam kelas saja, mengapa saja boleh asal jangan ribut. Duh, tanpa sesal, tanpa rasa bersalah. Memang masih ada guru, meski tidak bisa dikatakan banyak, yang masih menjaga jati dirinya sebagai guru, sebagai orang baik..

Pendidikan di kelas telah menjadi hubungan antar manusia seperti di pasar, ada uang ada proses belajar. Tidak ada uang, proses belajar tidak ada. Hubungan emosional dan karakter sudah hilang, karena antar siswa dan guru tidak saling menyapa satu sama lainnya. Lingkungan sekolah telah berubah menjadi lingkungan pasar. Kalau ada kepentingan barulah ada interaksi yang mendalam. Kalau tidak penting, kalau perlu saling tidak menyapa satu sama lainnya. Siswa tidak akan menyapa guru di sekolahnya yang tidak mengajarnya, atau setelah ia naik kelas dan guru itu tidak mengajarnya lagi. Memang masih ada siswa, meski tidak bisa dikatakan banyak, yang masih menjaga hati dan dirinya untuk berposisi sebagai seorang murid..

Alangkah bahagianya jika dunia pendidikan telah menjadi dunia yang jernih dan bersih dari polusi. Tradisi menjaga ujian telah usai, karena sudah tidak relevan dan signifikan. Setelah soal ujian dibagikan, para guru meninggalkan ruangan tempat ujian untuk melanjutkan pekerjaan yang lain. Peserta didik tidak ada yang berbuat curang dan nakal..

Lantas, …?

2 Tanggapan

  1. tolong jelaskan menyontek karena faktor dari orang tua………!!!!!!

  2. yang namanya ujian itu tidak akan terpisahkan dengan “nyontek”. nyontek itu (menurutku) ada keuntungannya juga. misalnya jika kita sedang menghadapi penjurusan. kita ingin ke IPA, tapi fisika kita jelek. kalau saat sedang ulangan kita menyerah begitu saja dan tidak berusaha menyontek, maka kemungkinan kita tidak bisa masuk IPA, atau yang lebih buruknya lagi bisa tidak naik kelas. sedangkan kalau pada saat itu kita menyontek (ke sumber yang terpercaya), niscaya kita akan terselamatkan dalam penjurusan. setelah kita berhasil masuk ke IPA, kita bisa mempelajari lagi materi fisika yang pada waktu itu belum kita kuasai. nyontek itu bermanfaat juga kan? asal jangan terus-terusan… setuju???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: