Alat-alat Optika (3) – Teropong, Mari Lihat Yang Benar

Ini bagian akhir dari materi tentang alat-alat optik. Meski banyak sekali peralatan-peralatan yang menggunakan prinsip-prinsip optik, tapi untuk saat ini kita batasi saja sampai di Teropong. Materinya yang dapat diambil di sini:Alat Optika – Teropong (3) atau disini: ho-alat-optika (3) : Teropong:, seperti biasa mencoba menjelaskan prinsip-prinsip pembentukan bayangan pada teropong. Ada sekitar 5 buah teropong yang dijelaskan disini.
Memahami bagaimana sebuah benda terlihat, sebenarnya lebih kepada persepsi yang ada di pikiran kita. Kadar baik atau jeleknya sebuah benda yang terlihat juga tergantung kepada sebarapa banyak kadar kebaikan yang ada di benak kita. Orang yang pikirannya lebh banyak bertaburan noktah-noktah yang kotor, maka juga akan melihat buram segala kehidupan yang ada disekitarnya.
Keburaman-keburaman itu akan menimbulkan penyakit dan kesalahan. Misalnya tanpa kita sadari , banyak dari kita ternyata mengalami penyakit rabun dekat. Lho? Rabun dekat itu kan gak bisa melihat ‘sesuatu’ yang dekat atau yang ada pada kita dengan jelas. Coba, seberapa banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa banyak kelemahan-kelemahan dan ketidakindahan perilaku kita tidak terlihat dengan kita? Kita malah lebih banyak melihat dengan jelas kekuranganan-kekurangan orang lain. Bukankah itu rabun dekat, atau terang jauh?
Begitu juga kesalahan memanfaatkan teropong, kita lebih banyak menggunakan teropong (meneropong) perilaku orang lain. Mending, jika perilaku orang lain yang berbalut kebaikan itu bisa kita tiru sehingga menyelimuti perilaku kita juga, tapi ternyata kita lebih suka ‘membesar-besarkan’ masalah atau kesalahan orang lain; mencoba-coba mengais-ngais aib orang lain untuk kemudian kita sebarkan dan kita bangga dengan itu; seolah ketika kita melakukan itu, kita menjadi manusia paling hebat, karena bisa mengetahui lebih banyak aib orang lain dan menjadi orang pertama yang menyebarkannya.
Sebenarnya yang lebih fatal adalah ketika kita melihat menggunakan semua alat optik itu, baik mata, kacamata dan seterusnya, kemudian tidak sesuai dengan ‘kacamata’-Nya, tidak sesuai dengan petunjuk-Nya. Kesalahan ‘proses pembentukan bayangan’ tersebut jelas akan membuat kita tidak tahu dengan apa yang sebenarnya kita lihat.
Yang jelas, bagaimana semua yang ada di alam ini dan ilmu yang telah kita dapatkan bisa mendekatkan kita kepada-Nya sedekat-dekat mungkin, agar kedekatan itu membawa keberkahan di dekat-dekat kita dan didekat-dekat orang lain.

9 Tanggapan

  1. Trima kasih atas materi” nya Pak….

  2. aslm wr wb
    terima kasih atas materinya, pak..
    semoga dengan ini saya lebih mengerti…
    terima kasih pak…
    wasalam

  3. aslmqm…pak…kok yg ngomen ke blog bpk ni, anaknya lurus2 aja…
    bhsnya tu bhs indonesia yg baik dan bnr bgt dah…

  4. ya mbak…
    lestarikan budaya Indonesia!!!
    hidup Indonesia !!!

  5. assalamualaikum,pk…
    thx pak, materinya…
    tp, klu boleh ksh comment, tolong gambarnya diperbanyak ya pak…
    thx lagi pak eR_siS..^^

    • wa’alaukumussalam wr. wb….
      yup, mudah2an bermanfaat.
      Gambarnya insya Allah sy perbanyak, cuma sy khawatir kuota blognya cepat habis.
      Mungkin di materi yang didowload saja yg sy kasih gambar agak lebih banyak

  6. aslam wr.wb
    thank’s atas smua materina..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: