Pesan ke 1: Sebarkanlah salam….

Salah satu kerjaan saya saat ini adalah mencoba menyebarkan pesan-pesan melalui tulisan-tulisan yang bentuknya kayak bulletin. (buletinnya dapat didownload dibawah postingan ini) Tujuannya ya selain mencari ridho Allah (memang apalagi selain ini?) juga mencoba agar bisa sedikit ‘mewarnai’ lingkungan supaya agak lebih sejuk. Sedikit saja, dan sepenggal-sepenggal, nggak perlu banyak-banyak. Sebenarnya saya berharap bisa tersebar sepekan sekali, namun karena keterbatasan, baik berupa dana ataupun tenaga, maka diusahakan sekali dua pekan. Mudah-mudahan Allah Subhana Wa Ta’ala memudahkan.

Pesan yang pertama saya sebarkan pekan ini, – sebenarnya nggak saya sendiri yang menyebarkan, karena anak-anak banyak yang mau bantu kekelas-kelas. Jatah saya cuma di wilayah majelis guru atau sejenisnya. Pesan yang dibuat adalah tentang Islam dalam kehidupan sehari-hari, supaya lebih cepat mengingatnya. Dan pesan ini sebagian juga mengambil dari banyak sumber yang sudah nggak bisa lagi disebutkan darimana sumbernya. Jika ada yang berminat untukberbagi dengan mengirimkan tulisannya, bisa ngirim ke email saya. Termasuk yang mau ngirim komentar, saran atau apapun. Jazakumullah untuk semua itu.

Pesan pertamanya yang disebarkan yaitu:

Assalaamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh….

Ucapan ini sudah sedemikian familiar ditengah kita. Sudah fasih dilidah ummat Islam, terutama bagi yang memang setiap hari menyebutnya minimal lima kali sehari diakhir sholat mereka, maupun bagi mereka yang hanya membasahi lidah dengan salam di acara resmi. Tapi sudahkah ia menjadi tali pengikat cinta? Karena Rasulullah bersabda:”… Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kamu sekalian.” (HR Muslim).
Assalaamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh….

Betapa cinta Rasululullah dengan untaian kata ini. Hingga nyaris tak lepas lisannya dari salam disetiap kesempatan dan waktu. Saat beliau melewati sekumpulan anak-anak. Saat beliau mendatangi suatu kaum. Saat beliau bertemu dengan kaum wanita. Saat beliau bertamu. Saat beliau sedang berkumpul dalam majelis bersama sahabatnya, ketika sahabatnya datang dan meninggalkan majelis satu persatu. Saat beliau memasuki rumahnya. Do’a ini mengalun indah dari bibirnya. Karena, “Apabila salah seorang diantara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia mengucap salam kepadanya. Dan seandainya diantara keduanya teprisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu kembali, maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi”. (HR Abu Dawud)

Maka tak heran, jika Abdullah bin Umar suka pergi kepasar, meski tak hendak membeli sesuatu. Kepada Tufail bin Ubay bin Ka’ab yang pernah menemaninya ia berkata,”Wahai Tufail, marilah kepasar. Kita sampaikan salam kepada siapa saja yang kita jumpai”. Maka berpuluh kali kalimat itu meluncur sejuk dari mulutnya, kepada pedagang, pembeli, para kuli, tukang rombengan hingga warga papa. Karena inilah salah satu indikator kebaikan seseorang muslim,”Berislamlah dengan baik dengan cara mengucap salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal”. (HR Bukhari dan Muslim).

Lantas, kenapa kita tidak membiasakan kata-kata cinta ini sebagai pengganti kata-kata sapa yang biasa kita lakukan. Sungguh sejuk jika kita setiap bertemu senantiasa didoakan dengan do’a ini. Agar hilang segala syak wasangka. Sungguh keberkahan bagi kita dan seisi kelas jika setiap kita masuk kelas, kita lantunkan doa ini, meski kita berulang kali masuk kelas. Agar hilang segala kesulitan belajar. Sungguh keberkahan bagi kita dan seisi sekolah, jika kita setiap bertemu kita lantunkan do’a ini. Agar teduh dan damai sekolah kita. Kenapa kita tidak memulainya sekarang? Mulailah.
Dengan penuh cinta, ucapkan Assalaamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh (Semoga Allah memberikan keselamatan kedamaian, kasih mesra dan keberkahan untukmu sahabatku, saudaraku…..)

Karena sesungguhnya salam itu merupakan sunnah terdahulu sejak zaman Nabi Adam ‘alaihi salam hingga hari kiamat. Salam merupakan ucapannya para penghuni surga. Salam merupakan sunnahnya para Nabi, tabiatnya orang-orang yang bertakwa dan semboyannya orang-orang yang suci. Salam menunjukkan ketawadhu’an seorang muslim, ia juga menunjukkan kecintaan kepada saudaranya yang lain. Salam menggambarkan akan kebersihan hatinya dari dengki, dendam, kebencian, kesombongan dan rasa memandang rendah orang lain. Salam merupakan hak kaum muslimin antara satu dengan lainnya, ia merupakan sebab dicapainya rasa saling mengenal, bertautnya hati dan bertambahnya rasa kasih sayang serta kecintaan. Ia juga merupakan sebab diperolehnya kebaikan dan sebab seseorang masuk surga.

Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim.”

Adab-adab Salam

Allah berfirman, “Apabila kalian diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa: 86)

“Hendaklah salam bagi yang berkendaraan kepada pejalan kaki, yang berjalan kaki kepada yang duduk dan yang sedikit kepada yang banyak.” (HR. Muslim). dan “Yang lebih baik dari keduanya adalah yang memulai salam.” (HR. Bukhori dan Muslim)

“Jika engkau hendak masuk ke rumahmu, hendaklah engkau salam, niscaya berkah akan turun kepadamu dan keluargamu.” (HR Turmudzi). “Dan jika tak ada seorangpun di dalamnya, maka ucapkan, Assalamu’alainaa ‘ibaadillahish shaalihin.” (HR Muslim).

Dari Miqdad bin Aswad radiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Kami mengangkat jatah minuman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena beliau belum datang), kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam datang di malam hari, maka beliau mengucapkan salam dengan ucapan yang tidak sampai mengganggu/membangunkan orang tidur dan dapat didengar orang yang tidak tidur, kemudian beliau masuk masjid dan sholat lalu datang (kepada kami) lalu beliau minum (minuman kami).” (HR. Timidzi)

“Jika seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, hendaknya ia memberinya salam, dan jika terpisah antara keduanya oleh pohon, tembok ataupun batu besar lalu bertemu kembali, hendaknya kalian mengucapkan salam lagi padanya.” (HR Abu Dawud).

“Jika kalian mendatangi suatu majlis hendaklah salam, dan jika hendak berdiri seyogyanya juga salam, dan tidaklah yang pertama itu lebih berhak dari yang terakhir”. (HR. Abu Dawud)

“Tidaklah bertemu dua orang muslim kemudian berjabat tangan kecuali Allah akan mengampuni dosanya sebelum berpisah”. (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

“Janganlah mendahului Yahudi dan Nasrani dengan ucapan salam, jika engkau menemui salah seorang dari mereka di jalan,… (HR. Muslim) dan “Jika ahli kitab memberi salam padamu maka jawablah dengan wa’alaikum” (mutafaq alaihi).

Dari Ibnu Umar ra., dia berkata, “Ada seseorang lewat dan Rasulullah SAW sedang buang air kecil. Orang itu mengucapkan salam kepada beliau dan Rasulullah SAW tidak menjawabnya.” (HR: Muslim)

“Sudah mencukupi untuk suatu rombongan jika melewati seseorang, salah satu darinya mengucapkan salam.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Saudaraku, betapa banyaknya umat Islam yang berpaling dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian menggantinya dengan kebiasaan orang-orang kafir. “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan kaum tersebut.” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Maka wahai hamba Allah, hidupkanlah sunnah yang mulia ini di tengah-tengah kaum muslimin agar lebih mempererat hati-hati kita dan menyatukan jiwa-jiwa serta untuk meraih ganjaran dan pahala di sisi Allah.
Wa Allahu A’lam.

Demikianlah, jika ingin mendownload buletinnya dapat disini: download pesan ke 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: