Puasa Syawal, Apa dan Bagaimana?

Al QuranBeberapa saat setelah saya membangunkan hp dari tidurnya yang cukup panjang (sekitar 9 hari off), masuk sms dari ‘seseorang’ yang bertanya tentang puasa di bulan syawal. Meski sebagian telah terjawab, namun supaya lebih afdhol, jawabannya saya tulis saja di blog ini, mudah-mudahan lebih lengkap (dibandingkan jawaban melalui sms kemarin) dan agar supaya selain ‘dia’ ada juga yang lain mendapatkan kecerahan hidup dalam mengamalkan sunnah dari Nabi-Nya. Karena dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhori: 6502).

Dasar-dasar di sunnahkan puasa Syawal

Puasa sunnah didasarkan oleh hadits berikut:

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun . (HR. Muslim: 1164).

Imam Ahmad dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam bersabda: “Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka.)

Dari Tsauban, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Iedul Fitri, maka seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan dalam Syarh Shohih Muslim 8/138, “Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, Dawud beserta ulama yang sependapat dengannya yaitu puasa enam hari di bulan Syawal adalah suatu hal yang dianjurkan.”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahuna. ” (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: “Salah satu sanad yang beliau miliki adalah shahih.”)

Hadist yang ketiga, menjelaskan mengapa puasa Ramadhan yang 30 hari ditambah denga puasa 6 hari di bulan Syawal bisa dihitung bagaikan puasa selama setahun penuh. Coba perhatikan hadits ketiga; …”barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya…” Artinya jika kita berpuasa satu bulan di bulan Ramadhan sebanding dengan sepuluh bulan (dijelaskan dalam hadits kedua); dan puasa yang enam hari itu sebanding dengan 60 hari atau selama dua bulan. Bukankah 10 bulan ditamba 2 bulan sama dengan setahun?

Kapan Waktunya dan Apakah Harus Berurutan?

Puasa sunnah ini dilakukan setelah hari raya Iedul Fithri (1 Syawal) hingga menjelang pergantian bulan Syawal ke Dzulqoidah; selama enam hari, boleh berurutan (lebih afdhol) dan boleh terputus-putus.

Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan dalam Syarh Shohih Muslim 8/328: “Afdholnya (lebih utama) adalah berpuasa enam hari berturut-turut langsung setelah Iedul Fithri. Namun jika ada orang yang berpuasa Syawal dengan tidak berturut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, maka dia masih mendapatkan keuatamaan puasa Syawal berdasarkan konteks hadits ini”

Mana Yang Lebih Dahulu, melunasi puasa yang tertinggal sewaktu Ramadhan atau Puasa Syawal?

Sebaiknya jika kita masih ada tanggungan hutang puasa ramadhan, kita selesaikan dahulu, sebab mendahulukan sesuatu yang wajib daripada sunnah itu lebih melepaskan diri dari beban kewajiban. Jadi jangan mendahulukan yang sunnah daripada yang wajib.

“Jika seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan enam hari puasa Syawal, karena dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan enam hari puasa Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu.” [Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’, 10/392]

Ibnu Rojab rohimahulloh berkata dalam Lathiiful Ma’arif, “Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Romadhon, hendaklah ia mendahulukan qodho’nya terlebih dahulu karena hal tersebut lebih melepaskan dirinya dari beban kewajiban dan hal itu (qodho’) lebih baik daripada puasa sunnah Syawal”. Pendapat ini juga disetujui oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Mumthi’.

Lantas, bagaimana jika qodho’nya itu lebih dari 29 hari? (artinya ia tidak pernah berpuasa di bulan Ramadhan karena sesuatu sebab); maka sebaiknya ia harus menyegerakan diri untuk melepaskan diri dari kewajiban itu dengan berpuasa sesegera ia bisa. Dan bukankah masih banyak puasa-puasa sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wassalam.

Kapan Berniatnya? Dan Bolehkah memutuskannya disiang hari?

Untuk puasa sunnah dibolehkan berniat pada siang hari, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim r.a.: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemui keluarganya lalu menanyakan: “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan)?” Mereka berkata, “tidak” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu sekarang, saya puasa.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berpuasa sunnah kemudian beliau membatalkannya sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan terdapat dalam kitab An Nasa’i. (Lihat Zadul Ma’ad, 2/79)

Bolehkah kita memulainya di hari Jum’at atau Sabtu?

Berdasarkan hadits dalam Bukhari-Muslim : Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada hari Jum’at kecuali kalau kita berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya.”

Jadi boleh-boleh saja kita puasa atau memulai puasanya di hari Jumat, karena memiliki sebab yang jelas, misalnya membayar qodho’ puasa, puasa syawal, puasa arofah, puasa Nabi Daud. Ataupun jika kita melakukan puasa syawal ini tidak bersambung, juga dibolehkan. Misalnya hari Jum’at kita puasa syawal, terus kita lanjutkan lagi hari Ahad, Senin, kemudian Sabtu.

Begitulah, semoga Allah Subhana Wa Ta’ala memberikan keluasan hati dan kekuatan jiwa untuk menjalankan sunnah ini, karena Ibadah-ibadah sunnah merupakan penyempurna kekurangan ibadah-ibadah yang wajib yang kita jalani selama hidup yang cuma sesaat ini.

Dan INI YANG PENTING: Oleh karena, saya bukan ustadz atau ulama ataupun orang yang faqih dibidang agama, bisa jadi tafsiran-tafsiran saya jadi salah; untuk itu bagi yang diberi keluasan dan kemuliaan ilmu dapat membantu meluruskan pemahaman saya ini, yang cuma orang biasa yang mencoba mengamalkan Islam sebatas ilmunya yang sangat terbatas. Untuk orang-orang baik tersebut, semoga Allah Subhana Wa Ta’ala berkenan membalas kebaikannya dengan lebih baik dan lebih banyak.

5 Tanggapan

  1. assalamualaikum…
    pak…

    gmana klo misalnya kebangun pas udah siap adzan,,,tpi blum sempat bca niat???
    masih bisa gak pak niat buat puasa???

    syukran pak..

    • wa’alaykumussalam warrohmatullohi….
      lho kan sudah ada penjelasan diatas, kalau untuk puasa sunnah, niatnya bisa pas pagi-pagi; gak mesi malam…
      selamat puasa …

  2. Assalamualaikum ..

    mohon info nya ttg jadwal puasa syawal menurut kalender masehi .. tgl berapa oktober ya terakhir bisa puasa syawal ?

    makasii ya Pak ..

    • wa’alaykumussalam warrohmatulloh…
      kalau malam ini, rabu malam kamis, tanggal 14 oktober itu sudah tanggal 25 Syawal,
      Insya Allah kalau syawal itu 29 hari, maka tanggal 29 Syawal jatuh pada hari Senin, 19 Oktober 2009. Insya Allah.
      dan 1 Dzulqaidah 1430 H, jatuh hari Selasa, tanggal 20 Oktober 2009.
      Mudah2an bisa terbantu…

  3. assalamualaikum, mau tanya, berhubungan dgn puasa di har jumat, bgmn jika puasa syawal saya sudah 5 hr, tinggal 1 hr. hari ini jatuh hr jumat, sebentar lg sepertinya saya akan datang bulan.padahal seminggu lg bulan syawal sudah berakhir.lalu apakah saya boleh menyelesaikan puasa di hr jumat tsb?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: