Sepenggal Harap Di Awal Semester…

Hingga saat ini kita mungkin masih dapat tersenyum dengan pagi. Pagi yang datang memeluk semesta dengan kehangatan, memberikan harapan yang penuh akan gambaran masa depan. Pagi yang dengan lembut menggegaskan kita agar segera melangkah memunguti curahan rahmat-Nya. Meskipun pagi tidak selalu identik dengan riuhan kicauan burung karena hampir saja tidak tersisa lagi pohon untuk mereka.

Atau bagi kita yang kemudian masih bisa mengangguk kepada senja. Senja yang datang dengan menghamparkan selimut istirahat yang nyaman bagi kita yang letih, setelah seharian meretas kehidupan, mengarungi dunia. Meskipun senja tidak selalu menampakan semburat jingganya karena hampir saja gedung-gedung tinggi dengan cahaya lampu menutupi kilauannya.

Lantas sudah berapa ribu pagikah yang kita lewati atau berapa ribu senjakah yang telah kita rengkuh, yang dengannya kita mengukur hari yang telah kita lewati dan terkumpul menjadi usia. Juga disini, disekolah kita, suatu tempat  yang kita bersama mencoba belajar dan mengeja alif – ba – ta kehidupan, menangkap isyarat bahasa semesta, membaca alam dan mengartikulasikannya lewat aksara, yang tanpa kita sadari juga akan menggenapkan usia kita, detik demi detik.

Benarkan itu usia kita? Apakah usia hanya sekedar dihitung dengan seberapa banyak pagi dan senja yang datang menghampiri kita silih berganti?

Usia sebenarnya sebanding dengan kebaikan, sehingga semakin banyak kebaikan yang kita lakukan, maka makin panjanglah usia kita, makin abadilah kita, karena usia adalah selang waktu yang digunakan manusia untuk berpindah dari satu kebaikan ke kebaikan yang lain. Kebaikan yang berlandaskan pada syariat-Nya, bukan kebaikan-kebaikan yang menurut keinginan manusia yang kemudian mendefinisikan kebaikannya menurut nafsunya sendiri-sendiri, tanpa tuntunan Ilahiah..

Setiap saat perubahan memainkan notasi sesuai partitur, sesuai kehendak-Nya. Setiap detik, kehidupan yang selalu dibingkai oleh waktu berjalan menuju perubahan. Perubahan yang memperbarui. Dan disini, bersama perubahan dan waktu yang senantiasa bergerak, kita belajar untuk menjadi manusia sejati dan menyadari bahwa waktu mengantarkan kita pada sesuatu yang pasti. Sesuatu yang abadi. Sesuatu yang kita kerjakan detik demi detik akan terabadikan dalam rekaman amal, yang  dengannya kita berinvestasi untuk keabadian yang pasti itu. Karena kita pasti bisa mengatakan bahwa syurga dan neraka itu suatu kepastian, untuk membuktikan betapa Maha Adilnya, Tuhan. Dan segala perbuatan baik itu adalah untuk memperpanjang usia kita.

Waktu hidup kita terbatas. Tarikan nafas pun sudah terhitung.  Setiap desah nafas akan mengurangi bagian dari diri. Setiap bagian usia adalah mutiara yang tak ternilai, tak ada bandingnya. Satu desah nafas bila digunakan untuk kebaikan, bisa berharga ribuan tahun kenikmatan. Tapi sebaliknya, satu desah nafas bisa menciptakan kesengsaraan ribuan tahun.

Jika kita memiliki mutiara dunia, pasti sangat terpukul saat mutiara itu hilang. Bagaimana kita bisa menghilangkan mutiara akhirat yang membahagiaan dengan menyia-nyiakan detik demi detik dari waktu-waktu? Bagaimana diri tidak bersedih bila kehilangan usia tanpa ada yang bisa menggantikannya? Tanpa  ada nilai? Tanpa ada makna? Bahkan seolah-olah waktu sengaja kita habiskan tanpa ruang sedikitpun disana untuk meletakan sekedar sepenggal kebaikan.

Kematian sebenarnya hanya memisahkan diri  dari dunia dan penghuninya. Tapi menyia-nyiakan waktu akan memisahkan diri  dari Allah dan akhirat.

Karena, tiap detik adalah anugerah, tiap detik adalah karunia, dan tiap detik adalah cinta. Meski detik ini  tak ada yang bisa berpulang ke masa lampau, tapi  detik ini selalu akan ada kesempatan untuk memulai masa depan, untuk merenda amal pada baris kebaikan dan kebahagiaan.

Semester genap yang akan kita arungi ini, merupakan ujian yang jauh lebih berat dari semester ganjil kemarin. Bukan dari segi kesukaran materinya, bukan dari segi banyaknya materi, bukan dari sedikitnya waktu yang tersisa. Bukan. Semester ini akan lebih menguji posisi kita sebenarnya. Apakah kita bisa membuat nilai kita menjadi lebih baik sehingga kita bisa naik kelas (bagi kelas X dan XI), lulus ujian nasional dan mendapatkan jurusan terbaik di perguruan tinggi (bagi kelas XII). Posisi kita dimata Tuhan, ditentukan dari bagaimana proses kita mendapatkan itu semua. Bukan nilai tertinggi, yang akan dinilai baik oleh-Nya; tapi yang terbaik di mata-Nya adalah siapa yang bersedia dan selalu memposisikan diri sebagai hamba-Nya, menapaki semua ujian dengan penuh kejujuran, menorehkan jawaban kita sendiri bukan jawaban teman yang kita pindahkan ke lembar jawaban kita, karena kita yakin dan selalu merasa bahwa Ia senantiasa mengawasi kita. Disanalah sulitnya. Namun jika kita bisa melewatinya semua itu, maka posisi kita akan diangkat-Nya lebih tinggi, lebih mulia, lebih ….

Lantas, selamat berjuang disemester genap ini; jangan lupa selalu berdoa agar Ia senantiasa menunjuki kita ke jalan yang lurus, dan melindungi kita dari musuh-musuh-Nya yang terkutuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: