Antara Kecerdasan dan Kepintaran; Yang Manakah Kita? *)

Pagi ini (senin, 18 Januari 1010) , saya diamanahi untuk memberikan amanat tentang Iptek; meski sebenarnya memilih saya untuk membawakan masalah iptek bukanlah pilihan yang tepat. Dan saya memohon maaf karena bisa jadi amanah ini tidak akan tersampaikan dengan baik oleh saya pada hari ini. Karena saya tidak akan mengulas tentang apa itu iptek, saya hanya menyampaikan  tentang dua hal; yang saya pikir berkaitan juga sedikit dengan iptek tersebut. Dua hal itu adalah tentang Kepintaran dan Kecerdasan.

Kita mulai dengan mendefinisikan Kepintaran. Kepintaran adalah kemampuan kita dalam menyerap informasi berupa ilmu pengetahuan; informasi itu bisa dari mana saja. Baik itu informasi dari buku bacaan, dari internet, majalah, guru yang mengajar di kelas, amanat upacara ini, bisik-bisik; atau dari mana saja. Seberapa banyak akumulasi dari informasi ilmu pengetahuan yang terserap ini menunjukkan seberapa pintarnya kita, dan karena daya serap informasi manusia itu berbeda-beda kadarnya; ada yang daya serapnya tinggi ada yang kurang tinggi; maka ada sebutan orang yang pintar atau kurang pintar.

Sedangkan kecerdasan adalah kemampuan kita dalam mengelola kepintaran yang kita miliki. Dikelola untuk apa? Itu terjawab dalam sebuah kitab yang pernah saya baca. Dalam kitab itu ada dialog dua orang lelaki. Lelaki pertama bertanya, “ya Muhammad, siapakah orang yang cerdas itu?” dan lelaki kedua yang bernama Muhammad (yang sekarang kita kenal sebagai Nabi dan Rasul ummat ini, yaitu Muhammad Sholallohi Alaihi Wasalam) menjawab; “bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan beramal/berbuat untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang yang lemah kecerdasannya adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah.” (Hadits ini diriwayatkan oleh at-Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Disini dijelaskan bahwa standar kecerdasan seseorang dilihat dari kemampuannya mengekang nafsu dan tingkatan amal-amal kebaikan yang dilakukannya untuk bekal hari akhirat. Sebaliknya pengumbar dan budak  nafsu adalah ciri orang yang lemah pikiran, lemah kecerdasan. Kenapa? Karena orang yang cerdas dalam kriteria ini adalah orang yang memiliki pandangan jauh ke depan, yakni kehidupan akhirat sebagai terminal kehidupan terakhir. Ia  adalah orang yang penuh pertimbangan, tidak sembrono, cermat, hati-hati dan sungguh-sungguh melakukan aktivitasnya karena ia ingin segala sesuatu yang dilakukannya tidak sia-sia apalagi membahayakan dirinya.

Jadi jelas ada perbedaan orientasi antara kepintaran dan kecerdasan. Kecerdasan itu adalah pilihan hidup, yang berorientasikan kepada tujuan akhir kehidupan kita sebagai manusia, yaitu akhirat; maka seberapapun karunia kepintaran yang diberikan Tuhan kepada kita, maka harus kita gunakan dengan secerdas-cerdasnya. Saat ini, saya akan mencoba memberikan contoh-contoh perbedaan antara kepintaran dan kecerdasan.

Pertama, Kepintaran bagi kita saat ini sering ditandai dengan nilai-nilai rapor yang baik, yang dengannya kita mendapat rangking pertama, kedua dan seterusnya. Sedangkan, kecerdasan ditentukan oleh bagaimana kita memperoleh nilai yang tertera pada raport tersebut. Orang yang menggunakan segala cara termasuk cara-cara yang tidak dibenarkan oleh aturan kebaikan manapun, agar selembar kertas itu berisikan nilai-nilai yang tinggi berarti bukanlah orang yang cerdas.

Kedua, Kepintaran dan Kecerdasan ditandai dengan bagaimana kecermatan orang itu menghitung waktu, lama atau cepatnya. Orang yang tidak cerdas biasanya akan menggunakan segala cara agar ia tidak remedial dengan alasan agar ia bisa menghemat waktu yang mungkin akan menghabiskan waktu beberapa hari; yang dengan itu ia kemudian dianggap pintar oleh orang disekitarnya. Namun orang yang cerdas, karena ia berorientasi pada akhirat, ia menghitung justru waktu untuk mempertanggungjawabkan hasil perbuatannya di hadapan Tuhan, jauh lebih panjang dan lebih menyakitkan daripada hasil yang didapat dengan penuh kecurangan di dunia ini. Ia tidak mau mengorbankan dirinya dihadapan Tuhan, hanya demi nilai di rapor, hanya demi selembar kertas apakah itu ijazah, lembar sertifikasi, lembar akreditasi atau lembar-lembar penghargaan lain. Orang yang cerdas tahu dan bisa menghitung serta membandingkan arti beberapa hari di dunia ini.  Bayangkan saja, bangsa Mesopotamia yang kita pelajari itu hidup di zaman 3000 Sebelum Masehi; setelah itu kemanakah mereka? Orang-orang itu telah terkubur di alam kubur selama lebih kurang 5000 tahun hingga kini sebelum kemudian dibangkitkan kembali bersama kita nanti pada hari akhir yang kita tidak tahu kapan; bisa jadi setahun, dua tahun, seribu tahun atau delapan ribu tahun lagi. Itu baru lamanya di alam kubur.

Ada beberapa orang yang kurang cerdas, terkadang begitu senang jika ada guru yang keluar sebelum jam pelajarannya; atau guru tersebut tidak mengajar di kelas. Atau bahkan ia senang jika ada guru yang kurang begitu mengawasinya sewaktu ujian, bahkan ada yang mengucapkan syukur alhamdulillah.  Ia lupa dan tidak kasihan bahwa orang yang telah mendidiknya dengan susah payah di sekolah ini, nanti akan kerepotan ketika dipertanyakan Tuhan di akhirat, mengapa ia tidak amanah dalam menunaikan tugasnya? Apakah ini tabiat seorang peserta didik yang baik dan cerdas? Dan sebenarnya siswa yang tidak serius dalam pembelajaran adalah orang-orang yang tidak amanah; bukankah salah satu dari tiga ciri-ciri orang munafik adalah tidak amanahnya ia?

Ketiga, masalah anggapan membahagiakan orang tua. Banyak dari kita berasumsi bahwa apa yang kita lakukan itu untuk membahagiakan orang tua; agar ada rasa bangga dan bahagia dari orang tua, ketika beliau-beliau itu mengambil rapor kita. Misalkan kita akan ulangan harian pertama di awal-awal Februari 2010 besok; dan nilai itu akan diakumulasikan dengan nilai-nilai ulangan harian  lainnya dan ditulis serta dibagikan kepada kita dibulan Juni. Bagi orang yang cerdas, ia sangat hati-hati karena ia tahu bahwa tidak ada seorangpun didunia yang bisa menjamin ia masih ada di bulan Juni, dan juga tidak bisa menjamin bahwa apakah orang tuanya yang diharapkan bahagia itu akan bisa mengambil raport tersebut. Karena siapa yang bisa menjamin bahwa kita masih pada esok hari? Lantas, apakah dan siapakah yang dibahagiakan jika salah satu tidak ada? Jangankan membahagiakan orang tua dengan amal-amal kebaikan kita, kita sendiri kelak disibukkan dengan mempertanggungjawabkan perbuatan kita didunia. Atau jangan-jangan orang tua kita nantinya disana akan menyesali memiliki anak seperti kita kaena perbuatan-perbuatan kita yang sama sekali tidak cerdas itu yang tidak bisa membantu mereka sedikitpun dihadapan-Nya. Sungguh, kebahagiaan orang tua kita adalah pada seberapa cerdasnya kita; bukan pada seberapa pintarnya kita saja.

Maka bertanyalah kita hari ini, seberapa cerdaskah kita?

Sebelum saya tutup, ada pesan tadi dari pihak sekolah. Yang pertama adalah bahwa pada hari ini kita akan dikunjungi oleh tamu dari MAN 1 Kuantan Singingi. Sebagai tuan rumah yang baik, maka selayaknya kita memberikan yang terbaik yang kita miliki untuk dapat melayani mereka, dan jangan berlebih-lebihan. Bertindak sewajarnya saja, jangan dibuat-buat. Menjadi peserta didik yang wajar, yaitu bertindak dan bertingkah laku selayaknya seorang yang sedang menuntut ilmu. Ikuti saja tata tertib sekolah, jangan membuat-buat aturan diluar tata tertib, karena itu kelihatan tidak wajar. Kita sudah muak melihat begitu banyak kepura-puraan di sekitar kita. Lihatlah televisi, begitu banyak kepura-puraan yang kita bisa lihat dan anehnya terkadang kita membayar untuk itu.

Yang Kedua, berkaitan dengan lomba lingkungan hidup, ecoyouth, adiwiyata, adipura dan seterusnya. Sudah banyak himbauan, peraturan, materi pelajaran tentang hal ini, dan juga mungkin juga waktu, tenaga dan dana yang kita berikan. Agar tidak mubazir, kita ikuti saja semua itu dengan baik dan ikhlas. Disini, saya hanya memberikan sedikit tambahan, yaitu kita semua sudah tahu, bahwa Tuhan selalu memberi amanah atau tugas kepada hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba-nya. Jadi, ketika kita berjalan dan melihat sampah, ingat bahwa Tuhan memberikan kita amanah dan kepercayaan kalau kita itu mampu memungut dan membuang sampah itu pada tempatnya. Syukuri atas kepercayaan besar itu; yang mungkin kepercayaan itu tidak diberikan kepada orang lain. Hanya kepada kita, dan perlu diingat, kepercayaan dan kemuliaan itu dari Sang Maha Besar dan Sang Maha Mulia; amat sangat jauh lebih besar dan mulia dari sekedar juri adiwiyata, kepala sekolah, wali kota, atau presiden sekalipun. Tuhan tahu, bahwa kita mampu, dan mungkin saja sekaligus Tuhan ingin agar kita mengendurkan urat-urat di bahu atau punggung ketika kita memungut sampah itu; karena IA tahu ada masalah pada urat-urat itu. Bukankah, membuang duri atau sampah di jalan bisa mengantarkan kita ke Syurga? Ikhlaskan saja. Sungguh, bagi orang-orang yang cerdas, ia akan memahami bahwa kemuliaan itu bukan datang dari manusia, tetapi hanya datang dari Tuhan, meskipun ia hanya seorang pemungut sampah dan jangan sampai kecintaan kita kepada lingkungan hidup melebihi cinta kepada Sang Pencipta kehidupan, itu saja.

Demikianlah, semoga bermanfaat; sungguh yang benar itu datang dari Tuhan, yang salah datang dari saya; Billahi fi sabililiel – haq, ihidinashshirothol mustaqim.

____________________________________

*) tulisan ini merupakan hasil transkripsi dari amanah yang saya sampaikan ketika Upacara Bendera Senin 18 Januari 2010.

*) Jazakallahu khoiron katsiro kepada pelaksana upacara yaitu kelas X – 2;  dan juga kepada anak-anak Passus 8 yang telah melatih mereka hari Ahadnya; semoga amal kebaikan kita diterima-Nya.

4 Tanggapan

  1. iyeahhhh…cramah atw pdato neh pak?? bpk curang y..pke kopekan nehhhh…hehehehehehehhehehe….

  2. alhamdulillah nambah ilmu, makasih atas masukannya y pak,,

  3. assalamualaikum,,,,
    kirim kisi2 soal UN dunk,,mksih saya btuh bgd niech bwt mengasah otak sya…terimakasih.

  4. tulisan bpk diatas, benar2 buka pikiran sya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: