Untuk Sahabat, Masih Bisakah?

Pada mulanya adalah keinginan untuk berbuat baik, keinginan untuk bisa membanggakan semuanya dan menunjukkan jati diri sebagai yang terbaik, berusaha dan terus berusaha agar yang muncul adalah prestasi terbaik dan semuanya itu berujung pada kebaikan. Maka mulailah upaya-upaya untuk mengasah kemampuan, tentunya dengan segala hal yang dianggap lumrah dan wajar.

Namun waktu dan tempat kemudian belum mengizinkan semuanya tampil sebagai yang terbaik. Ada pemeringkatan agar yang terbaik saja yang kemudian dimunculkan ke permukaan. Sisanya bukan dianggap tidak yang terbaik, atau tidak bermanfaat; namun demikianlah adanya. Agar perlombaan menuju kebaikan menjadi sempurna. Orang-orang ‘yang terkalahkan’ ini membuat kemenangan orang-orang ‘yang menang’ menjadi begitu terasa berharga. Alangkah naifnya berlomba tanpa ada lawan, apa kata orang jika kita menjadi juara pertama pada perlombaan yang hanya diikuti oleh satu orang peserta saja?

Lantas, apakah kemudian Allah begitu kejam dengan hanya mengizinkan sedikit saja, malah teramat sedikit saja, yang tampil? Bagaimana dengan yang tidak atau belum diizinkan tampil sebagai pemenang? Apalah lantas ia dianggap sebagai pecundang? Sungguh, sebenarnya Tuhan begitu banyak menyiapkan skenario-skenario untuk kita jalankan, tergantung peran apa yang kemudian kita pilih.

Meskipun ‘kalah’, misalnya mendapatkan peringkat keenam, sementara yang diizinkan tampil hanya hingga peringkat kelima, sungguh Tuhan Maha Tahu, Ia akan menggiring kita untuk bisa mencari hikmah di balik semua itu jika kita mengikhlaskan diri. Bisa jadi itu semacam pelajaran agar kita selalu berusaha sebaik mungkin, bisa jadi Tuhan tahu kalau kita belum sanggup menerima ‘penghargaan’ itu, karena nantinya begitu menjadi pemenang, jangan-jangan memunculkan rasa sombong. Bisa jadi Tuhan menunjukkan bahwa bukan itu jalan terbaik untuk kita, Ia akan memenangkan kita pada jalan yang lain, yang itu adalah jalan terbaik kita. Bisa jadi, sungguh begitu banyak skenario yang Ia siapkan.

Namun, begitu banyaknya tuntutan duniawi yang harus dituruti, yang tanpa tuntunan keimanan, terkadang menyebabkan orang kemudian melakukan segala cara agar ia dapat tampil sebagai pemenang, tentunya dengan menyingkirkan orang-orang yang sebenarnya berhak atas kemenangan itu. Begitu banyak dalih yang kemudian ia kemukakan sebagai pembenaran-pembenaran semu atas segala tindakan salah yang ia lakukan. Bahkan, kemudian ia juga tega menyalah-nyalahkan orang yang telah mencoba berbuat benar; dan terkadang ia akan melibatkan orang-orang yang ingin berbuat benar dalam kesalahan yang sistematis yang dibuatnya.

Tetapi, rasanya sungguh tidak adil Tuhan, jika ia kemudian tetap mengizinkan kecurangan itu menang. Membiarkan orang-orang yang tidak memiliki hak untuk menyingkirkan orang-orang yang telah berlaku benar dan wajar. Sungguh, Tuhan akan menunjukkan ke Maha-Adilan-Nya. Pertama, ia telah menciptakan syurga dan neraka. Syurga bagi orang-orang benar yang terkalahkan di dunia dengan kecurangan-kecurangan dan ia belum sempat menikmati kemenangan di dunia, serta neraka bagi orang-orang yang selalu menang dengan segala pembenaran-pembenaran semu yang ia upayakan.

Kedua, keadilan-Nya akan diperlihatkan dengan cara menurunkan azab. Dalam salah satu hadits yang pernah saya dengar ketika khutbah Jum’at (dan sampai sekarang saya belum sempat menemukan teks dan referensi hadits tersebut secara utuh), Rasulullah bersabda, ‘tidaklah sekelompok orang (kaum) yang dalam hidupnya melakukan kedustaan atau kemunafikan, melainkan Allah akan menurunkan azab kepada orang-orang tersebut berupa rasa gelisah’.

Rasa gelisah yang merupakan azab ini adalah rasa gelisah yang muncul setelah ‘peristiwa’ atau ‘permainan’ itu usai; bukan sebelum peristiwa itu dimulai. Karena biasanya setiap akan menghadapi suatu peristiwa yang cukup penting, kita akan gelisah, tapi ini adalah gelisah manusiawi; bukan gelisah yang merupakan azab. Banyak orang yang menderita penyakit dimulai dari rasa gelisah yang muncul setelah ia merasakan ‘kesalahan’ dan ia merasa tidak mampu meminta maaf dikarenakan rasa ego yang dimilikinya lebih dominan dari rasa kemanusiaanya. Ia gelisah jika kesalahannya dibuka oleh orang lain, atas perkenan Allah. Ia merasa gelisah setiap bertemu dengan orang lain, karena ia merasa bahwa orang yang ditemuinya mengetahui kesalahan atau kecurangan yang ia lakukan. Ia merasa gelisah ketika akan tidur, karena ia selalu khawatir ketika esok ia terbangun maka orang-orang tahu kecurangan apa yang telah ia lakukan. Dan rasa gelisah ini akan mematikan potensi-potensi yang telah dimilikinya selama ini. Dan biasanya rasa gelisah ini akan menjebak kita untuk mencoba menutupinya dengan kesalahan-kesalahan lain.

Karena itu bagi orang yang merasa ‘terkalahkan’ karena kecurangan-kecurangan orang yang mendapat ‘kemenangan’, haruslah merasa yakin atas do’a-doanya yang sering dilantunkan, agar Allah menunjukkan bahwa yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah (dan dihukum atas kesalahan itu). Setinggi apa keyakinan kita akan kekuasaan-Nya, maka setinggi itulah Ia akan memberikan bukti ke-Maha Adilan-Nya.

Maka, setelah peristiwa itu, masih pantaskah kita kemudian menepuk dada dan menunjukkan kehebatan kita? Maka, setelah peristiwa itu, masih bisakah kita membusungkan dada menunjukkan prestasi-prestasi kita? Maka, setelah peristiwa itu, masih bisakah kita meyakinkan orang-orang bahwa kita masih memiliki prestasi? Maka, setelah peristiwa itu, masih bisakah kita kemudian bangkit, mencoba mencari kebenaran yang telah distandarisasikan oleh Sang Pemilik Kebenaran, Allah Subhana Wa Ta’ala? Atau jangan-jangan kita sibuk mencari orang-orang benar yang bisa kita salahkan, agar segala perilaku kita dianggap benar, oleh manusia tentunya.

Maka, setelah peristiwa itu, masih belum bisakah kita lebih mengedepankan sisi-sisi kemanusiaan kita, yang tidak luput dari khilaf dan salah? Atau jangan-jangan kita saat ini sedang mencoba membunuh rasa kemanusiaan kita, karena kita malu untuk meminta maaf dan kembali kejalan-Nya?

Masih Bisakah?

Untuk semuanya, mohon ma’af; itu semuanya untuk kebenaran, bagi seseorang disini teruskanlah mencari kebenaran.

8 Tanggapan

  1. karna gak ada tempat utk men- like – kan, jd sy tulis dsni….
    LIKE

  2. pondasi prestasi yg begitu bagus,,
    hancur dengan seketika,,

  3. pak,,, makasih y uda mengingatkan kami untuk berbuat jujur, jadi setidaknya kami tau kalo kami salah, mudah-mudahan Allah memberikan yang terbaik buat kita semua pak. Amin.

    pak apkh smua yg km lkkan sia2? apa yg sbikna km lkkan pak?

  4. LIKE THIS
    :thumbup

  5. pak, gimana y cara ngilangin prasangka2 kita terhadap orang maupun Allah Swt..
    Soalnya saya pernah baca ayat yg melarang kita untuk berprasangka (bisa jelasin pak?) saya lupa surat n ayatnya… Saya sering berprasangka sih…

  6. salam, saya suka dengan ulasan dan gaya penulisan anda, edukatif dan sangat menambah kasanah dunia pendidikan, semoga saya bisa mencontoh anda dalam memberikan pemikiran dan saran bagi sesama, semoga sukses selalu.
    @ beasiswa 2010 Indonesia.

  7. sekarang saya ngerti apa yang bapak maksud🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: