Topeng-topeng Itu…

 

gambar diambil dari : http://www.orenoque.com/

gambar diambil dari : http://www.orenoque.com/

Sore itu, “Bisa bantu aku nggak?”. Suara perlahan itu terdengar cukup getir. Saya menutup laptop, dan lemudian menatap matanya, tidak terlihat galau di wajah lelaki itu. Wajah yang terlihat teduh, dengan tanda bekas sujud di dahi itu tertunduk, sekilas terlihat gelisah cukup menggenang di matanya.

Maka berceritalah lelaki itu. Awalnya, mereka (dengan isterinya) selalu membeli topeng, bahkan mempunyai beberapa tempat langganan untuk memesan topeng-topeng yang mereka inginkan, meski tidak begitu murah tentunya. Saya cukup paham, karena sudah hampir mentradisi di sini, meski terkadang tergelitik juga ingin mencoba sekali-kali menggunakan topeng, namun mengingat biaya yang dibutuhkan untuk penopengan itu, saya selalu mengurungkan niat, lagi pula saya juga tidak memiliki topeng untuk mendatangi pembuat topeng agar identitas saya tidak diketahui, dan rasanya aneh kalau untuk itu harus meminjam topeng orang lain terlebih dahulu. Dulu, lelaki itu pernah memberikan hadiah topeng-topeng kepada kami selaku bawahannya, untuk dikenakan sewaktu-waktu bila membutuhkan, katanya. Ndilalah, topeng buat saya itu tertinggal di meja; dan keesokan harinya sudah tidak ada lagi. Syukurlah, saya dan hanya beberapa orang kemudian tidak lagi terbebani ‘amanahnya’ untuk mengenakan topeng itu sewaktu-waktu. Meski kadang-kadang ada yang mentertawakan, “hari gini gak pakai? Wah, mau makan apa dia! Ha ha ha”

Suatu saat, karena terburu-buru mereka harus mampir mengambil topeng yang telah dipesan, topeng itu harus dikenakan hari itu untuk menghadiri kegiatan. Anak-anak mereka yang didalam mobil, terpaksa harus ikut kedalam toko topeng yang punya brand “Nyaman di muka. Nggak akan bikin gerah. Serasa tidak memakai topeng”. Disinilah awal mulanya. Ketika melihat pajangan topeng di etalase, ada topeng badut, topeng gorila , topeng pahlawan super, topeng robot, ada juga topeng wajah sedih dan menangis, ada topeng dengan sosok bijak, ada topeng berwajah cantik nan menawan, ada topeng seram; anak-anak itu tertarik untuk memilikinya.

gambar diambil dari :http://www.tradeim.com/

Sang ibu, karena sayangnya dengan anak-anak, daripada anak-anak itu menangis, mencoba memuaskan mereka dengan sekalian membelikan beberapa topeng; dan dasar anak-anak, mereka dengan gembira mencoba sekaligus memamerkan topeng-topeng itu. Dan sang ibu (juga ayah tentunya) lupa dan tidak sadar kalau anak-anak mereka kemudian menikmati topeng-topeng yang dibelikan; bahkan berani memesan serta membeli sendiri dengan menyisihkan uang jajannya.

“Saya nggak masalah, kalau mereka kemudian juga mengenakan topeng-topeng itu diluaran, disekolah, disekitar rumah. Itu agar mereka kelihatan ‘baik’. Agar mereka dipercaya, agar mereka mendapatkan nilai tambah dari lingkungan. Agar tampak ramah-tamah, lemah lembut untuk menyembunyikan yang kurang enak dipandang. Bukankah itu untuk ‘kebaikan’ mereka juga”. “Mereka sering mendapatkan penghargaan dari sekolah dan juga masyarakat, banyak piagam penghargaan di rumah, bahkan kami harus membuat sebuah galery untuk memajang semua penghargaan itu”. Lelaki itu merasa bangga. Suasana hening, saya hanya mengangguk-angguk persis sapi.

Namun, kembali lelaki itu mengeluh. “Tapi, aku sekarang sering lupa dengan mereka, karena mereka juga sering mengenakannya di rumah, saat menyambut aku pulang, saat makan, saat berkumpul. Aku sering merasa kehilangan keaslian mereka”.

“Aku merasa bingung jika melihat mereka tersenyum, tertawa atau pun menangis. Bingung, apakah itu keadaan sebenaranya mereka atau efek karena topeng-topeng yang dikenakannya. Karakter pada topeng itu begitu menyatu dengan anak-anaku. Aku merasa bersalah. Aku gagal. Bagaimana nanti pertanggungjawabanku dimata Allah”. Suara itu seolah hampir menangis. Saya bingung. Frekuensi dan amplitudo suara yang terdengar setara dengan frekuensi dan amplitudo tangisan, tapi mengapa tidak ada air mata. Bahkan bibir lelaki itu masih tersenyum simpatik.

“Hmm, mas, tadi dari mana?” Saya yang dari tadi diam, akhirnya mencoba buka suara. Kepala lelaki itu tersentak. “Uph, maaf, tadi ada pengajian di kecamatan. Jadi tadi aku harus mengenakan ini, Astaghfirulloh”. Ia kemudian membuka topengnya. Topeng yang bertemakan ustadz yang tawadhu. Air mata yang tadi tertahan di balik topengnya, kini seolah menemui muaranya. Lepasnya topeng itu menghilangkan tanda sujudnya di dahinya dan juga senyum simpatiknya berganti dengan bibirnya yang asli, yang menghitam karena rokok.

“Sebenarnya bila kita senang dipuji dan menikmatinya atas sesuatu yang tidak ada pada diri kita, maka hal tersebut akan menimbulkan bahaya, karena menjadikan kita merasa yakin atas apa yang dikatakan orang tersebut, yang berarti kita sudah bersikap tidak jujur kepada diri kita sendiri. Padahal orang-orang memuji biasanya hanya menyangka saja. Sebab utama kita dipuji dan dihargai orang lain karena Allah masih menutup aib, maksiat, dan dosa kita.

Semestinya pujian itu bisa menjadikan diri kita malu, karena mereka menyangka sesuatu yang sesungguhnya tidak ada pada diri kita. Tapi bagi seorang pecinta dunia, dia akan menikmati sesuatu yang tidak ada pada dirinya itu, yang artinya dia sudah berbuat bohong pada dirinya sendiri. Dan akibat dari pujian ini adalah kita menjadi terpenjara, Misalnya, bila seseorang sudah terlanjur dipuji dengan pujian sebagai orang hebat, kemudian kita akan merasa takut apabila cap hebat tersebut hilang pada diri kita, sehingga kita akan melakukan apa saja agar pujian itu tidak hilang diberikan kepadanya. Akibat dari pujian itu pun, maka akan dengan mudah kita bisa menyalahkan/merendahkan mereka yang dianggap tidak hebat. Dia akan terbelenggu dan terpenjara oleh status tersebut. Dia akan sulit menerima kebenaran dari orang lain, dan mengakui kekurangan dirinya.

Pujian itu bahaya kalau kita tidak hati-hati menyikapinya. Bahkan akibatnya bisa menjadi malapetaka. Bisa menipu diri, dan menutup diri dari nasihat orang, serta menghancurkan keikhlasan. Keadaan ini bisa menjadi penjara, dan sedikit orang bisa lolos.

Agama kita, yakni Islam, mengajarkan kita menjadi orang yang tidak ada rekayasa atau pura-pura. Yang tidak ada jangan kita mengakui seolah-olah ada, yang sudah ada dan kelihatan kurang bagus dimata manusia, biarkan sajalah; jangan ditutup-tutupi, jangan dipoles-poles agar kelihatan sempurna. Kita berbuat hanya satu saja, agar Allah SWT ridha menerima, itu saja. Orang menerima atau tidak, memuji atau tidak, menghargai atau tidak, yang penting kita melakukan kebenaran sesuai aturan-Nya dan tidak melanggar hak orang lain. Tidak bermuka dua; hipokrit.

Bila ditafakuri, jujur saja, kita ini tidak ada apa-apanya. Kita hanya seorang manusia yang berlumur dosa yang ditutupi aib-aibnya. Kita hanya orang bodoh yang orang lain tidak tahu kebodohan kita. Kita tidak mempunyai apa-apa kecuali yang sekadar dititipkan Allah Subhana Wa Ta’ala. Kalau Allah Subhana Wa Ta’ala mau mengambil tidak bisa ditahan.

Kita sebenarnya tersesat kecuali Allah Subhana Wa Ta’ala yang menuntun. Bila kita sadari hal ini, pujian akan membuat kita malu terhadap Allah Subhana Wa Ta’ala . Cacian pun tidak akan melukai hati kita. Karena orang yang sakit hati bukan karena dihinanya, melainkan karena butuh sesuatu dari selain Allah SWT.

Sesungguhnya pujian harus dikaitkan dengan Allah, sehingga yang memuji tidak tertipu dengan pujiannya. Jangan pula mengobral pujian. Kita memuji orang lain seringkali karena didasari perasaan takut orang tersebut akan memarahnya, atau ada maunya. Padahal kita tahu sulit sekali memuji kepada orang lain karena karakter buruknya tetap bisa dirasakan walau tersembunyi.

Dalam memuji hendaklah berhati-hati, karena bisa merusak keikhlasan yang dipujinya. Memang naluri kita ingin dipuji, namun inginlah dipuji oleh Allah SWT yang mengetahui lahir batin kita sesungguhnya. Karena itu sesuatu yang akan menjadi mengasyikan dan kita menjalani kehidupan yang asli, bukan kepalsuan.

Rasulullah saw sangat mewanti-wanti bahwa pujian bisa mematikan iman. Pujian orang lain adalah prasangka orang lain pada kita. Orang memuji itu hanya melihat topengnya kita saja. Orang yang senang pujian orang kepada dirinya, seperti orang mabuk, mencari jalan apa pun agar orang memberinya pujian. “Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli.” (HR. Ad-Dailami).

Allah SWT yang menutupi aib atas kelalaian kita. Allah SWT menutupi supaya kita bisa bertaubat. Jangan terkecoh dengan penghormatan, itu topeng. Jangan menikmati pujian, karena itu tidak akan cocok.

Bagi orang yang sungguh-sungguh kepada Allah, bukan ditutupi dosanya agar tidak diketahui orang, melainkan ditutupnya jalan kita dari perbuatan maksiat.”

“Astaghfirulloh…, “ Lelaki itu tertunduk, air matanya mengalir. Namun kembali perasaan saya menangkap sesuatu, meski suara saya memasuki suatu ruang kosong, seolah-olah suara saya memantul lenting sempurna; kembali ke udara.
****

 

gambar diambil dari : http://www.krazymarket.com/

“Memang dasar anak itu, mudah-mudahan ia tertipu dan mengira kalau saya benar-benar taubat, minimal nanti ia tidak begitu menentang program-program saya, karena ia menanggap saya sudah jadi orang baik”. Laki-laki itu membuka topeng wajah memelasnya dan mengenakan topeng yang lain sambil memberikan amplop kepada supirnya. “Terima kasih atas idenya, pak supir. Ini untuk tambahan belanja”. “Sama-sama pak, kita kerumah siapa lagi pak?”, di balik topengnya, supir itu menyeringai sambil mengantongi amplop. Hhuh.

8 Tanggapan

  1. apa maksudnya pak?

  2. Subhanallaah…
    sepertinya saya tahu maksudnya, Pak.
    Tapi bagian yang terakhir agak bingung. hehe..

    Semoga Allah melindungi kita dari topeng-topeng itu, ya Pak.

  3. kalau sj sy punya 1000 jempol, 999-nya sy kirim lewat blog ini k bpk. tulisannya bgs pak,
    *beneran loh,sy lg gk pakai topeng..🙂🙂

    • wah win, mungkin sy gak bsa menerima; karena kalau sy terima, maka sayalah satu-satunya manusia dengan 1003 jempol (999 jempol dari winda + 4 jempol saya).
      tapi bagaimanapun jazakalloh….

  4. bagus dnk pak,jd gk susah nyari bpk 10 thn lagi (manusia 1003 jempol). hehe..
    sama2 pk🙂

  5. aslmkm, tlisan nya subhanallah pak.. bleh sy ambil utk d publikasi kn???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: