Mengapa Mesti Marah? (Bagian 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Marah? Siapakah yang tidak pernah tergoda untuk marah? Ketika disaat kita ingin belajar serius ada yang mengganggu. Ketika kita ‘hanya’ mendapatkan nilai ‘secukupnya’ setelah kita belajar sepenuh hati – sementara teman yang tidak belajar malah mendapatkan nilai tinggi karena pintarnya mereka ‘berinteraksi dan berkolaborasi’. Ketika kita sedang mencoba menjelaskan sesuatu pelajaran, sementara sebagian (yang umumnya jarang mendapatkan nilai ‘bagus’) malah ‘menganiaya’ kita dengan bermain-main dan melakukan hal yang tidak perlu. Ketika kita ingin beristirahat, ternyata malah ada yang ingin mencoba ‘mengganggu’ dengan meminta tolong untuk menjelaskan atau melakukan sesuatu. Ketika melihat jawaban ujian peserta didik banyak yang tidak sesuai dengan materi yang telah kita jelaskan. Ketika sedang berlibur malah diberi tugas macam-macam. Ketika kita lagi menjalankan program yang telah diputuskan bersama, tidak ada teman-teman yang menolong kerja-kerja itu. Ketika berharap sesuatu dari tulisan di blog ini, ternyata malah tidak ada apa-apanya. Ketika, ketika …

Lantas apa sebenarnya marah itu? Marah sebenarnya muncul ketika ada perasaan tidak suka yang teramat kuat yang disebabkan oleh suatu kejadian, yang mungkin ternyata salah atau mungkin pula ternyata tidak salah. Jadi kemarahan atau marah sangat tergantung dari persepsi kita. Artinya kemarahan yang dirasakan oleh kita akan berbeda dengan kemarahan yang dirasakan oleh orang lain dan atau suatu penyebab bisa menimbulkan kemarahan bagi kita tetapi belum tentu menimbulkan kemarahan bagi orang lain. Menurut Imam Al-Ghazali, dalam bukunya Ihya Ulumuddin, marah pada hakikatnya merupakan gejolak hati yang mendorong agresifitas.

Seseorang bisa saja marah karena sangat sensitif terhadap lingkungannya sehingga ia sering salah persepsi dan ini akan memunculkan rasa marah yang tidak menentu. Gairah marah juga bisa muncul karena merasa diri kurang mampu atau tidak percaya diri sehingga mudah berputus asa, maka ia lalu memarahi dirinya sendiri. Marah juga bisa muncul karena rasa frustasi yang disebabkan oleh keinginannnya yang tidak terpenuhi, dan ini karena orang tersebut bersifat egois, tidak bisa dan biasa bersyukur, biasanya orang-orang ini memiliki ambisi berlebihan, bila keinginannya tidak terpenuhi maka ia akan meluapkan marahnya. Semuanya itu biasanya akan menimbulkan marah yang negatif.

Lantas, apakah kita memang harus marah?

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Al Quran Surah Al Baqarah (2):133 – 134)”

“Dari Abu Hurairah Ra., seorang lelaki berkata pada Rasulullah Shalallhou Alaihi wa Salam, berilah saya nasehat. Rasulullah Shalallhou Alaihi wa Salam bersabda “Janganlah engkau marah” Rasulullah mengulang-ulang pada ucapannya. (HR. Bukhari)”

Jika kita ingin marah, mungkin sebaiknya direnungkan hal-hal berikut ini:

Pertama, Renungkanlah terlebih dahulu. jangan-jangan kita salah persepsi terhadap peristiwa yang membuat kita marah. Karena kemarahan secara umum sering muncul ketika terjadi beda persepsi. Samakan dulu persepsi kita. Kalaulah peristiwa itu memang salah dilihat dari sudut pandang kita dan terlihat tidak baik (sekali lagi dari sudut pandang kita), ingat bahwa selalu ada hikmah dari suatu peristiwa. Suatu peristiwa yang terlihat tidak baik di mata kita belum tentu tidak baik di mata Allah, begitu juga sebaliknya.

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia sangat baik untukmu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui.” (Al Baqarah 216)

Jadi baik atau buruknya suatu peristiwa dari sudut pandang kita jangan langsung menjadi penyebab kita untuk bersegera menyalurkan energi marah kita. Jangan sampai kemarahan kita hanya untuk menutupi kelemahan atau kesalahan kita. Pikirkan dengan tenang, faktor apa sebenarnya yang menjadi pemicu sehingga kita harus marah. Jangan sampai marah yang muncul dari kita berasal dari syeitan, karena Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya marah-marah dari Setan, dan sesungguhnya setan diciptakan dari api, dan sesungguhnya api dimatikan dengan air. Maka ketika salah satu kalian marah-marah maka hendaklah berwudhu.” (HR. Abu Dawud)

Kedua, jika peristiwa itu memang salah menurut kita dan kita merasa teraniaya dengan hal itu, kita juga sebaiknya mengingat bahwa tidak ada penghalang antara do’a orang teraniaya dengan Allah, tentunya jika kita bersabar.

Takutlah kamu pada do’anya orang yang dianiaya, maka sesungguhnya do’anya orang yang dianiaya tidak ada penghalang antara do’a dan Allah.” (HR. Tirmidzi)”

Ketiga, kita juga harus mengingat bahwa dengan menahan energi kemarahan sebenarnya proses tersebut adalah untuk melatih diri agar menjadi orang yang kuat. Di dalam hadits Rasulullah Shalallhou Alaihi wa Salam bersabda :

“Orang yang kuat bukanlah orang yang hebat dalam bertengkar, sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika harus marah.” (HR. Bukhari)

Keempat, Ingat juga bahwa ada imbalan yang akan diterima kelak ketika kita disisi Allah, yaitu syurga yang luasnya seluas langit dan bumi sebagaimana Surat Ali Imron ayat 133 – 134 diatas, juga akan menjadi pemimpin ahli syurga, ketika kita bisa menahan letupan kemarahan.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR Ahmad).

Demikianlah,  untuk sementara ini semoga jangan marah-marah lagi  ya, Insya Allah bersambung….

7 Tanggapan

  1. saya hanya bisa tersenyum sendiri membaca paragraf pertama dari postingan bapak kali ini, sedikit merasa tersentil B-)
    tulisan yang ini saya suka pak
    ditunggu bagian yang kedua

    siang

    • hmmm…
      sy kn gak bermaksud menyentil siapapun kok, tapi ….
      alhamdulillah, terima kasih.
      yang kedua? semoga….

  2. assalamualaikum..
    tapi kalo mendam amarah itu bukannya jadi tambah tertekan ya pak? jadi gimana caranya biar hati ‘plong’ tapi ga pake marah? terus gimana cara ngelatih pikiran/logika supaya selalu ‘mendahului’ nafsu amarah (soalnya yg terjadi biasanya sebaliknya)? satu lagi pak, marah kan bisa juga menunjukkan kalo kita ga suka/ga setuju/ga terima atas sesuatu, trus kalo kita pendam dan menunjukkan(terkadang berpura-pura) kalo kita ok2 saja, orang ga bakalan tau apa yang sebenarnya kita rasakan dan ingin sampaikan, bukan jadi munafik pak? thks

    • Wa’alaykumussalam warrohmatulloh…
      Wah, pertanyaan yang bagus!
      Insya Allah saya tulsikan saja di tulisan ke dua, atau ketiga atau keempat, atau…
      (hmm… jangan marah ya..)
      Sudah ada rencana untuk menuliskan itu, tapi belum sempat terstruktur, mudah-mudahan pekan ini,
      semoga…

  3. mengapa mesti marah pak?😀 maaf kebanyakan nanya juga hehe. baiklah, ditunggu kelanjutannya..

  4. wah tulisan bapak🙂 TOP , di mark pada bagina “pandai ‘berinteraksi dan berkolaborasi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: