Tentang Ghibbah (1) : Ghibah itu…

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Ghibah  atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. Ghibah dapat mencerai-beraikan ikatan kasih sayang dan ukhuwah sesama manusia. Seseorang yang berbuat ghibah berarti dia telah menyemai kedengkian dan kejahatan dalam masyarakat.

Ghibah berasal dari bahasa Arab dengan akar kata ghaaba, yang berarti ‘tidak hadir’, atau lawan kata dari hadhara. Asal usul kata ini memberi pemahaman adanya unsur ‘ketidakhadiran seseorang’ dalam gibah, yakni orang yang menjadi obyek pembicaraan. Dari segi definisi istilah atau terminologi, gibah diartikan sebagai pembicaraan tentang seseorang yang tidak hadir dalam pembicaraan itu, yang apabila dia mendengarkannya akan menjadi terganggu atau tidak senang. Dalam bahasa Indonesia, gibah diterjemahkan sebagai “menggunjing”.

Yahya bin Ayyub menceritakan kepada kami, demikian pula Qutaibah dan Ibnu Hajar. Mereka mengatakan: Isma’il bin Al-’Allaa’ menceritakan hadits kepada kami dari jalan ayahnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”,
Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.”
Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?”
Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (berbuat buhtan).”
(HR. Muslim. 4/2001. Dinukil dari Nashihatii lin Nisaa’)

Jabir bin  Abdullah ra. Meriwayatkan “Ketika kami bersama Rasulullah SAW.  Tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai maka  Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari  orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ﴿١٢﴾

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (Surah Al Baqarah (49):12)

Ayat tersebut menegaskan posisi hukum gibah sebagai sebuah perbuatan yang merusak tata hidup kemasyarakatan sekaligus sebagai “pengkhianatan” terhadap sesama manusia. Sebuah perumpamaan yang sangat tegas dari al-Qur’an tentang gibah ini adalah “sukakah engkau memakan daging saudaramu yang sudah mati”. Pertanyaan yang ironis dari kata “ayuhibbu“ (sukakah) melambangkan bahwa terdapat kecenderungan orang untuk suka bergibah, namun kesukaan itu dicela agama. Lalu ada kata “memakan daging” yang berarti menikmati suasana gibah itu bagaikan seseorang yang mamakan daging dengan nikmatnya.  Sedangkan kata “maytan” (mati) berarti bahwa orang yang digibah itu dalam keadaan tidak berdaya, tidak mampu dan tidak sempat membuat pembelaan karena dia tidak hadir.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴿١١﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Surah Al Hujuraat : 11)

Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

Oleh karena itu tidak halal seorang muslim yang mengenal Allah dan mengharapkan hidup bahagia di akhirat kelak, memperolokkan orang lain, atau menjadikan sementara orang sebagai objek permainan dan perolokannya. Sebab dalam hal ini ada unsur kesombongan yang tersembunyi dan penghinaan kepada orang lain, serta menunjukkan suatu kebodohannya tentang neraca kebajikan di sisi Allah. Justru itu Allah mengatakan: “Jangan ada suatu kaum memperolokkan kaum lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan; dan jangan pula perempuan memperolokkan perempuan lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan.”

Yang dinamakan baik dalam pandangan Allah, yaitu: iman, ikhlas dan mengadakan kontak yang baik dengan Allah. Bukan dinilai dari rupa, badan, pangkat dan kekayaan.

Dalam hadisnya Rasulullah shollallohi ‘alaihi wasallam mengatakan:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan kekayaan kamu, tetapi Allah melihat hati kamu dan amal kamu.” (Riwayat Muslim)

Bolehkah seorang laki-laki atau perempuan diperolokkan karena suatu cacat di badannya, perangainya atau karena kemiskinannya?

Dalam sebuah riwayat diceriterakan, bahwa Ibnu Mas’ud pernah membuka betisnya dan nampak kecil sekali. Maka tertawalah sebagian orang. Lantas Rasulullah shollallohi ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas’ud, demi Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahwa kedua betisnya itu timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud.” (Riwayat Thayalisi dan Ahmad)

Al-Quran juga menghikayatkan tentang orang-orang musyrik yang memperolok orang-orang mu’min, lebih-lebih mereka yang lemah –seperti Bilal dan ‘Amman– kelak di hari kiamat, neraca menjadi terbalik, yang mengolok-olok menjadi yang diolok-olok dan ditertawakan,

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ﴿٢٩﴾وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ﴿٣٠﴾وَإِذَا انقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَكِهِينَ﴿٣١﴾وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ﴿٣٢﴾وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ﴿٣٣﴾فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ﴿٣٤﴾

29. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.
30. dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.
31. dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.
32. dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”,
33. Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.
34. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, (al-Muthaffifin 29-34)

Ghibah juga sama dengan riba, bahkan lebih berat lagi dosanya. Sebagaimana Abu Ya’la meriwayatkan,
Bahwa Rasulullah shollallohi ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahukah kamu seberat-berat riba di sisi Allah?”
Jawab sahabat: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
Nabi shollallohi ‘alaihi wasallam bersabda: “Seberat-berat riba di sisi Allah ialah menganggap halal mengumpat kehormatan seorang muslim.”
Kemudian Nabi shollallohi ‘alaihi wasallam membaca ayat yang artinya: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (As-Silsilah As- Shahihah, 1871)

Penyakit ghibah pernah menjangkiti Aisyah, istri Rasulullah shollallohi ‘alaihi wasallam Aisyah sang istri Rasulullah shollallohi ‘alaihi wasallam pernah lalai melakukan hal Ghibah dan Rasulullah shollallohi ‘alaihi wasallam sempat marah padanya dan langsung memperingatkan sang Istri.

Tatkala itu, Aisyah berkata kepada Nabi shollallohi ‘alaihi wasallam: “Cukuplah bagimu Shafiyah (cukup cela untukmu Shafiyah yang bertubuh pendek).”
Dengan nada keras beliau menjawab: “Sesungguhnya engkau telah mengeluarkan satu kalimat yang amat keji, andaikan dicampur dengan air laut niscaya dapat merusaknya.”
Dan pada kesempatan lain, Aisyah juga berkata: “Saya mencontohkan kejelekan orang kepada Nabi shollallohi ‘alaihi wasallam ”
Maka Nabi bersabda: “Saya tidak suka mencontohkan (memperagakan keburukan) orang meskipun saya akan mendapat upah ini dan itu yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi dari Aisyah).

Dosa ghibah juga lebih besar daripada berbuat zina.
“Hati-hatilah kamu dari ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dari pada berzina.
Ditanya, bagaimanakah?
Jawabnya, “Sesungguhnya orang yang berzina bila bertaubat maka Allah akan mengampuninya, sedangkan orang yang ghibah tidak akan diampuni dosanya oleh Allah, sebelum orang yang di ghibah memaafkannya.” (HR Albaihaqi, Atthabarani, Abu Asysyaikh, Ibn Abid)

Begitulah Allah mengibaratkan  orang yang suka menggibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk  menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

Sebagaimana diharamkan seseorang melakukan ghibah, diharamkan juga mendengarkannya dan mendiamkan perbuatan tersebut. Oleh karena itu wajib membantah orang yang melakukannya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda’ dari Nabi shollallohi ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya maka Allah menghalangi wajahnya dari api neraka di hari kiamat,” (HR. Tirmidzi)

Orang yang senantiasa mengumpat orang lain dan mencari-cari kesalahannya akan disiksa oleh Allah dengan siksaan yang berat. Yakni mencakar-cakar muka dan dada sendiri dengan kuku yang terbuat dari tembaga. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah shollallohi ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahwasanya Rasulullah shollallohi ‘alaihi wasallam bersabda,

“Pada malam Isra’  mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari  tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku  bertanya pada Jibril” Siapa merka?” Jibril menjawab, “Mereka itu suka  memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain,  mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!” (dari Abu Daud yang  berasal dari Anas bin Malik ra).

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallohu anha, dia telah berkata : Rasulullah shollallohi ‘alaihi wasallam telah bersabda : “Barangsiapa memberikan jaminan kepadaku terhadap apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang berada di antara dua pahanya, maka aku memberi jaminan surga baginya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas disebutkan bahwa seseorang akan dijamin keselamatan akhiratnya jika ia sendiri bisa menjamin apa yang berada di antara dua rahangnya dan dua pahanya, dan apa yang ada di antara dua rahangnya adalah lidah atau perkataannya. Karena sesungguhnya perbuatan lidah ini akan sangat banyak dampak yang dapat ditimbulkan olehnya.

Dikisahkan Ubay dan Umayyah yang kaya raya sering mengejek dan menghina Nabi Muhammad shollallohi ‘alaihi wasallam yang miskin karena kesombongan mereka karena harta mereka yang banyak. Selain mereka, ada juga Akhnas dan Jamil, si pengumpat, yang suka mengejek dan menghina orang miskin karena harta mereka banyak. Mereka juga senang menimbun harta dan menghitung-hitung harta mereka. Lalu Alloh menurunkan surat ini sebagai peringatan atas perbuatan mereka .

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ﴿١﴾الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ﴿٢﴾يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ﴿٣﴾كَلَّا لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ﴿٤﴾وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ﴿٥﴾نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ﴿٦﴾الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ﴿٧﴾إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ﴿٨﴾فِي عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ﴿٩﴾

(1) Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
(2)yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,
(3)dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,
(4)sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.
(5)Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
(6)(yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
(7)yang (membakar) sampai ke hati.
(8)Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
(9)(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (
Surah Al Humazah (104) : 1 – 9)

Dari Ibnu Abbas r.a, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw pernah berjalan melewati 2 (dua) kuburan, kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya 2 (dua) orang ahli kubur itu disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Ya, benar. Sesungguhnya dosa itu adalah besar. Salah seorang di antara keduanya adalah berjalan di muka bumi dengan menyebarkan fitnah (mengumpat). Sedang salah seorang yang lain tidak bertirai ketika kencing”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Menggibah kadang mendapat pembenaran  dengan dalih, “Ini fakta, untuk diambil pelajarannya!”. Padahal di balik  itu kurang lebih mungkin lebh banyak faktor ghibahnya daripada  pelajarannya.

Pada diri  manusia itu cenderung terdapat sifat suka menggunjingkan orang lain.  Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan  demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau tidak  dirinya saja yang menderita.
Jika demikian  kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan  istighfar. Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita  sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

Setiap  orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang  adalah perbuatan dosa. “Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang  di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi  cacatnya” (HR. Muslim).

bersambung ke kesini; Ghibah Yang Dibolehkan
Artikel dalam pdf dalam bisa didownload download disini

Satu Tanggapan

  1. koreksi pa ustadz, yang tepat bukan surah al baqoroh,, tapi al hujuroot ayat 12- wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: