Qiyamul Lail (2)~ Ada Apa Dengan Qiyamul Lail (1 – 7)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sebelumnya kita telah membahas sedikit tentang Qiyamul Lail pada tulisan sebelumnya yaitu  Qiyamul Lail (1)~Pendahuluan, maka kita lanjutkan dengan keutamaan-keutamaannya.  Setidaknya ada 16 keutamaan-keutamaan yang bisa saya paparkan. Tulisan kali ini membahas 7 hal saja terlebih dahulu.

1. Terpelihara Dari Gangguan Setan, & Bangun Di Pagi Hari Dalam Keadan Segar Dan Bersih Jiwanya

Hamba Allah yang bangun malam dan kemudian menunaikan hak-hak malam atas dirinya, akan terpelihara dari gangguan setan sepanjang hari, lantas ketika ia menemui pagi, ia akan berada dalam keadaan segar dan bersih jiwanya. Namun jika kita tidak bangun, atau bermalas-malasan bangun, berlaku sebaliknya. Kita akan kurang segar dan kurang bersih jiwanya.

Bagi kita, sebenarnya secara umum tanpa sadar ternyata telinga kita sering dikencingi setan, bila kita tidak bangun malam untuk shalat tahajud.

Dari Abu Wa’il, dari Abdullah, beliau berkata, “Ada yang mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa terdapat seseorang yang tidur malam hingga shubuh (maksudnya tidak bangun malam). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan,

ذَلِكَ الشَّيْطَانُ بَالَ فِى أُذُنَيْهِ .

“Demikianlah setan telah mengincingi kedua telinganya.” (HR Bukhari, 3270 dan Muslim,1853 , HR. An Nasa’i no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1330)

Setan benar-benar telah mengencingi. Karena, dalam beberapa riwayat juga disebutkan bahwa setan pun juga makan, minum dan menikah. Jadi, tidak mustahil setan pun mengencingi secara hakiki. Namun ada yang berpendapat bahwa ungkapan tersebut sebagai kiasan bahwa setan telah mengikat telinganya sehingga tidak mendengar zikir. Ada yang berpendapat bahwa setan memenuhi telinganya dengan kebathilan sehingga tak mampu mendengar zikr.

Ath Thibi mengatakan,”Dalam hadits diatas disebutkan telinga, meski matalah yang lebih layak berkaitan dengan tidur. Hal ini sebagai bentuk gambaran tidur yang pulas. Sebab, pendengaran sebagai pusat kesadaran. Sedangkan disebutkan kencing karena ia lebih mudah masuk dan lebih cepat mempengaruhi urat dan syaraf, sehingga akan menimbulkan kemalasan pada seluruh anggota badan”. (Ibnul Hajar, Fathul Bari Syahu Shahihul Bukhari, I:76)

Bayangkan bagaimana kerja syetan dalam menghalangi kita untuk beribadah. Pada saat manusia sedang tidur malampun, syetan tetap bekerja keras, berupaya agar kita terhalang untuk bangun dan mengingat Allah dalam rangka ibadah kepadaNYA. Pada saat kita tidur, setan iblis mengikat kita agar malas bangun untuk beribadah pada malam hari.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ. فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan (simpul), dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah (nerdo’a) maka lepaslah satu tali ikatan, jika dia berwudhu maka lepaslah tali yang lainnya, dan jika dia mendirikan shalat maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek dan menjadi malas beraktifitas (beramal sholeh)”. (HR. Al-Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776).

2. Dikabulkan Doa Orang Yang Berdoa, Diberi Bagi Yang Meminta, Dan Diampuni Yang Memohon Ampun Pada-NYA.

Waktu-waktu malam inilah yang sangat tepat bagi kita untuk berdoa, meminta atas segala apa yang kita inginkan. Saat menghilangkan rasa gelisah dan ketidaktentraman jiwa. Saat mengadukan semua permasalahan hidup yang berat. Saat meminta agar hidup terasa ringan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kami -Tabaroka wa Ta’ala- akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do’a pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan memberikan ampunan untuknya”. (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Dalam riwayat yang lain Rasulullah juga bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِيْ مُنَادٍ: هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى، هَلْ مِنْ مَكْرُوْبٍ فَيُفْرَجُ عَنْهُ فَلاَ يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُوْ بِدَعْوَةٍ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ إِلاَّ زَانِيَةٌ تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارٌ

Pintu-pintu langit dibuka pada pertengahan malam lalu penyeru pun menyeru: “Apakah ada orang berdoa, pasti dikabulkan doanya. Apakah ada orang meminta, pasti diberi permintaannya. Dan apakah ada orang yang banyak problem, pasti (semuanya) dihilangkan darinya. Maka tidaklah seorang muslim pun yang berdoa pada saat itu melainkan pasti Allah mengabulkannya kecuali zaniah (pelacur yang belum bertaubat) yang bekerja dengan kemaluannya dan `Asysyaar (Seorang yang mengambil harta manusia dengan cara bathil)”.  (HR. Thabhrani, Mujam al-Kabir, IX/59/8391)

Dari Jabir bin Abdillah dia berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu dia memohon kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allah akan memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. Muslim no. 757)

Maka berupayalah untuk mendapatkan saat tersebut. Saat diperkenankan semua pinta kita kepadaNYA. Dan waktu itu dibuka mulai dari pertengahan malam, khususnya di sepertiga malam terakhir. Jika malam kita dimulai saat maghrib sekitar pukul 18.00 dan berakhir saat subuh sekitar pukul 05.00; maka malam kita terdiri dari lebih kurang 11 jam; pertengahan malamnya yang sekitar 5,5 jam dimulai sekitar pukul 23.30 dan sepertiga malamnya yang sekitar pukul 01.30 atau 02.00.  Waktu-waktu inilah saat yang paling dekat dengan Allah Subhana Wa Ta’ala:

Dari ‘Amru bin ‘Abasah; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ العَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ» [سنن الترمذي: صحيح]

Saat yang paling dekat antara Allah dengan seorang hamba adalah di sepertiga malam terakhir, maka jika engkau bisa termasuk sebagai orang-orang yang mengingat Allah pada saat itu maka lakukanlah.” (HR Ath Tirmidzi: Sahih)

Suatu saat Penduduk Basrah sedang kekeringan. Mereka sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik matahari terasa sangat menyengat, padang pasir pun semakin kering dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Sholat Istisqa yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun usai. Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah.

Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu, tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-dosa yang telah dilakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit ? Padahal mereka semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini? Shalat demi shalat Istisqa didirikan, namun hujan tak kunjung datang. Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, Maimun, seorang pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang ke masjid itu. Langkahnya menuju mihrab, berniat untuk shalat Istisqa sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak geriknya.

Setelah shalat, dengan penuh kekhusyu’an ia menengadahkan tangannya ke langit, seraya berdo’a: “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.“

Lalu apa gerangan yang terjadi? Angin langsung datang bergemuruh dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh mendengar do’a seorang pelayan ini. Do’anya dikabulkan oleh Allah, hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah lama merindukannya.

Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran, Maimun, seorang budak miskin harta, yang hitam pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang dilalui saat itu. Hanya manusia biasa, tapi menjadi sangat luar biasa karena doanya yang makbul dan malam-malam yang dipenuhi dengan tangisan dan taqarrub pada-Nya.

3. Menjadikan Sebab Masuk Surga.

Dari Abdullah bin Salam; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِسَلَامٍ»

Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, dan salatlah di saat orang-orang sedang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan keselamatan.” [Sunan Tirmidzi]

4. Menaikkan Derajat Di Surga

Dari Ali bin Abi Thalib; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«إِنَّ فِي الجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا»

Sesungguhnya di dalam surga ada kamar yang terlihat bagian luarnya dari dalam dan bagian dalamnya dari luar. Seorang A’rabiy berdiri dan bertanya: Untuk siapa kamar itu ya Rasulullah?

Rasulullah menjawab:

«لِمَنْ أَطَابَ الكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ»

Bagi orang yang baik tutur katanya, memberi makan, selalu berpuasa, dan salat di malam hari saat orang-orang sedang tidur. (HR Tirmidzi)

5. Bukti Bahwa Kita Telah Mentaati Perintah Allah Dan Rasul-NYA Dan Allah Akan Mengangkat Kita Ke Tempat Yang Terpuji

Allah Subhana Wa Ta’ala Berfirman

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا﴿٧٩﴾

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isro’ (17):79)

Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqor menerangkan: “At-Tahajjud adalah sholat di waktu malam sesudah bangun tidur. Adapun makna ayat “sebagai ibadah nafilah” yakni sebagai tambahan bagi ibadah-ibadah yang fardhu. Disebutkan bahwa sholat lail itu merupakan ibadah yang wajib bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebagai ibadah tathowwu’ (sunnah) bagi umat beliau” (Zubdatut Tafsir, hal. 375 dan Tafsir Ibnu Katsir: 3/54-55)

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ﴿١﴾قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا﴿٢﴾نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا﴿٣﴾أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا﴿٤﴾

(1)Hai orang yang berselimut (Muhammad),(2)bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),(3)(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.(4)atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” (Al-Muzzammil (73) : 1 – 4)

Sa’ad bin Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah,Beritahulah aku bagaimana qiyamul lail yang dilakukan Rasulullah”.

Aisyah menjawab,”Bukankah engkau membaca (surat al muzzamil)?.

”Ya” jawab Sa’ad.

Aisyah menjelaskan,”Sesungguhnya Allah subhana Wa Ta’ala mewajibkan qiyamul lail pada awal surat ini. Lalu Nabi beserta para sahabat melaksanakannya selama satu tahun. Allah menahan akhir surah ini di langit selama dua belas bulan. Kemudian Allah menurunkan keringanan di akhir surah ini. Sejak saat itu qiyamul lail menjadi ibadah tathawwu’ setelah sempat menjadi wajib. (HR Muslim).

6. Merupakan Sifat Orang Yang Bertakwa.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ((18)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).

Al Hasan Al Bashri mengatakan mengenai ayat ini, “Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (shalat tahajud). Di malam hari, mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang shubuh). Dan mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 13/212, Maktabah Al Qurthubah.

7. Merupakan Sifat Ibadurrahman.

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩ ﴿١٥﴾ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴿١٦﴾ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴿١٧﴾

Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah (32): 16-17).

======

Tulisan ini merupakan sebagian dari tulisan tentang qiyamul lalil, merupakan materi yang disampaikan pada taklim di Rohis 8 Pekanbaru. Karena permintaan ‘seseorang’ maka tulisan ini diupload di blog sederhana ini. Kiranya bisa bermanfaat bagi yang memerlukan.

Bagi yang berminat untuk mendownload dalam versi pdf dapat diunduh disini Qiyamul Lail (2)~Ada Apa Dengan Qiyamul Lail (1~7).pdf. Merupakan lanjutan dari Tulisan Sebelumnya yaitu Pendahuluan Qiyamul Lail yang dapat didownload dalam versi pdf disini:Qiyamul Lail (1)~Muqoddimah . Tulisan selanjutnya yaitu Ada Apa Dengan Qiyamul Lail (8~16), insya Allah menyusul besok.

Manusia tempat khilaf dan lupa, maka jika ada Koreksi, masukan/saran dan perbaikan mohon hubungi yang menyusunnya atau email : ersis@ymail.com atau @rudisisyanto atau ke SMAN 8 Pekanbaru

Demikianlah.,…

2 Tanggapan

  1. […] Mariana Ratih R on Qiyamul Lail (2)~ Ada Apa Deng… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: