Qiyamul Lail (3)~ Ada Apa Dengan Qiyamul Lail (8 – 16)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Tulisan kali ini melanjutkan keutamaan-keutamaan qiyamul lalil sebagaimana tulisan sebelumnya Qiyamul Lail (2) Ada Apa Dengan Qiyamul Lail (1~7). Sudah ada 7 keutamaan-keutamaan yang diperoleh ketika kita konsisten untuk mengisi malam-malam kita dengan ibadah (Qiyamul Lail). Berikut sembilan (9) keutamaan dari minimal 16 keutamaan yang akan kita peroleh, yaitu:

8. Bukti Kita Meneladani Rasululloh

Dari Aisyah -Radhiallahu ‘Anha berkata: “Bahwasannya Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam shalat malam sampai pecah-pecah (bengkak) kedua kakinya, lalu akupun berkata kepada Beliau: “Mengapa Anda lakukan ini wahai Rasulullah, padahal telah diampuni dosa anda yang lalu dan yang akan datang?” Beliau -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur” (HR. Bukhari – Muslim)

Ada pula riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ketika semakin gemuk, beliau melakukan shalat Tahajjud dengan duduk.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَاأَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ

Dari Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: “Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?” Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku’ maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku.’ (H.R. Bukhari)

Begitulah Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk melakukan shalat malam, dan memberikan contoh dengan senantiasa melakukan shalat setiap malam hari sampai kedua kakinya bengkak akibat banyaknya beliau berdiri dalam shalat, padahal beliau adalah orang yang sudah diampuni dosanya oleh Allah dan dijamin masuk surga-Nya.

‘Aisyah pernah ditanyakan mengenai shalat malam yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah menjawab,

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ ، فَيُصَلِّى ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ ، وَإِلاَّ تَوَضَّأَ وَخَرَجَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar (ke masjid).” (HR Bukhari)

Abu Abdillah Hudzaifah ibnul Yaman Radhiallaahu anhu mengisahkan:

صلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ ذَاتَ ليلةٍ, فافتتَحَ البقرَةَ، فقلْتُ: يرْكَعُ عِنْد المائةِ. ثُمَّ مَضَى. فقلْتُ: يُصلِّي بِها في ركْعَةٍ، فمضَى, ثم افتتَح النِّسَاء فقرَأَها, ثُمَّ افتَتح آلَ عِمْرَانَ فقرأَهَا, يَقْرأُ مُتَرسِّلاً( )؛ إِذا مرَّ بآيةٍ فِيها تسبيحٌ سبَّح، وَإِذَا مرَّ بسؤالٍ سَألَ، وَإِذَا مرَّ بتعوُّذٍ تعوَّذَ، ثُمَّ ركعَ فجعَل يقولُ: “سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ” فَكان رُكوعُه نَحوًا مِنْ قِيامِه, ثُمَّ قال: “سَمِعَ اللهُ لِـمَنْ حَمِدَهُ, رَبَّنَا لَكَ الـحَمْدُ”, ثُمَّ قامَ قِيامًا طَوِيلاً قَرِيبًا مما رَكَعَ، ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ: “سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى” فَكَانَ سُجودُه قَريبًا مِنْ قِيامِهِ”

“Pada suatu hari, aku shalat bersama Nabi . Maka beliau memulai dengan membaca surat al-Baqarah. Aku berkata: Beliau ruku’ setelah seratus ayat. Kemudian beliau meneruskan. Maka aku berkata: Beliau shalat dengannya dalam satu rekaat. Kemudian beliau meneruskan, kemudian memulai surah an-Nisaa`, lalu terus membacanya. Kemudian beliau memulai surat Ali Imran, maka beliau membacanya. Beliau membacanya secara pelan lagi tartil. Apabila melewati ayat yang mengandung tasbih, beliau membaca tasbih. Apabila melewati permintaan, beliau meminta. Apabila melewat ayat perlindungan, beliau berlindung. Kemudian beliau ruku’, sambil membaca: ‘Maha suci Rabb-ku Yang Maha Agung.” Maka ruku’nya seperti berdirinya. Kemudian ia membaca: “Allah mendengar orang yang memujinya, wahai Rabb-kami, hanya bagi-Mu lah pujian.’ Kemudian dia berdiri yang lama, hampir seperti ruku’nya. Kemudian dia sujud dan membaca: “Maha suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi.” Maka sujudnya hampir sama dengan berdirinya.” (HR. Muslim).

9. Kebiasaan Orang-Orang Sholih Dan Ibadah Yang Mendekatkan Diri Pada Allahserta Penutup Kesalahan Dan Sebagai Penghapus Dosa”

Untuk menjadi orang-orang yang sholeh; tentunya kita meneladani perilaku orang-orang sholeh juga, terutama orang-orang sholeh yang telah mendahului kita. Karena perilaku sesama orang sholeh tentulah sama halnya.

Dari Bilal radhiyallahu ‘anhu, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنْ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ

“Hendaklah kalian mengerjakan sholat malam, karena itu merupakan kebiasaan orang sholeh sebelum kalian, mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari perbuatan dosa, menghapus keburukan, dan mencegah penyakit dari badan.” (HR. Ahmad, Tirmidzi No 3549, Hakim dalam Shahihul Jami’ I/380, Baihaqi II/502)

10. Tanda Kemuliaan Orang Beriman.

Setelah beriman, maka kita harus lebih memuliakan diri, salah satu caranya adalah dengan sholat malam.

Ketika Jibril datang pada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan sholat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain” (HR. Al Hakim)

11. Allah Melihat, Mendengar Serta Kagum Kepada Kita

Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasululloh bersabda, “Rabb kita ‘Azza wa Jalla merasa kagum terhadap dua orang. Pertama, orang yang meninggalkan tempat tidur dan selimutnya diantara keluarga dan tidurnya untuk melaksanakan sholat. Rabb kita lalu berfirman,”Wahai para malaikatku! Lihatlah hambaKU yang meninggalkan kasur dan selimutnya di antara tidur dan keluarganya untuk melaksanakan sholat karena mengharap balasan disisiKU dan takut adzab dariKU”…. (HR Ahmad, Ath Thabrani)

12. Allah Tertawa Kepada Hamba Yang Bertahajud.

Dari Abu Ad-Dardaa’; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثلاثةٌ يحبُّهم اللهُ عزّ وجلّ ، ويضحكُ إليهم ، ويستبشرُ بهم : الذي إذا انكَشَفتْ فئةٌ ؛ قاتلَ وراءَها بنفسِه لله عزّ وجلّ ، فإمّا أنْ يُقتلَ ، وإمّا أن يَنصُرَه اللهُ و يكفِيَه ، فيقولُ اللهُ : انظرُوا إلى عبدِي كيف صَبَرَ لي نفسَه؟! والذي له امرأة حسناء ، وفراش لين حسن ، فيقوم من الليل ، فـيقول : يذر شهوتَه ، فيذكُرني ويناجيني ، ولو شاءَ رقَدَ ! والذِي يكونُ في سَفَرٍ ، وكانَ معَه ركْبٌ ؛ فسهِرُوا و نصِبُوا ثمّ هَجَعُوا ، فقامَ من السّحرِ في سرّاءَ أو ضرّاءَ

Ada tiga orang yang dicintai oleh Allah ‘azza wajalla, tertawa kepada mereka, dan bergembira dengan mereka: Orang yang ketika perang berkecamuk ia bertempur dengan sedirinya demi Allah azza wajalla, kemungkinan ia mati atau Allah memberi pertolongan dan membantunya. Maka Allah berkata: “Lihatlah kepada hamba-Ku, bagaimana ia sabar menahan dirinya untuk-Ku”. Dan orang yang memiliki istri yang cantik dan ranjang yang empuk lalu ia bangun salat malam, maka Allah berkata: “Ia meninggalkan syahwatnya kemudian mengingatKu dan bermunajat kepadaKu, dan kalau ia mau ia tidur saja”. Dan orang yang sedang dalam perjalanan jauh bersama satu kelompok, kemudian mereka begadang, mendirikan tenda, dan mereka tidur. Tapi ia bangun salat di waktu sahur dalam kondisi senang atau susah.” [HR Ath Thabrani, Silsilah hadits sahih no.3478]

Allah Subhana Wa Ta’ala tertawa disini, bukan bermaksud mentertawai kita, karena Rasululloh shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, ”Apabila Allah tertawa kepada seorang hamba, maka hamba tersebut tidak akan dihisab”. (HR Ahmad dan Abu Ya’la)

13. Dapat Meringankan Lamanya Berdiri Di Hari Kiamat.

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا﴿٢٦﴾ إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا﴿٢٧﴾

“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat)”. (Surah Al Insaan (76): 26-27)

Ibnu Abbas berkata, ”Barangsiapa ingin dimudahkan oleh Allah saat berdiri lama pada hari kiamat, hendaklah dia memperlihatkan kepada Allah di malam yang gelap sujud dan berdirinya dalam shalat, seraya takut adzab akhirat”. (Tafsir Ibnu Jarir Ath Thobari)

Imam Abu Amru Al-Auza’i berkata, “Barangsiapa memperlama berdiri pada sholat malam, niscaya Allah akan meringankan lamanya berdiri pada hari kiamat”. (Al Bidayah wa An Nihayah, Ibnu Katsir)

Istri Abu Imran Al Juwani selalu bangun dan sholat malam hingga kedua kakinya bengkak karena terlalu lamanya berdiri. Suatu ketika, Abu Imran menegurnya,”Ringankanlah sholatmu dan sayangilah dirimu!”. Sang Istripun menjawab, “Dibandingkan dengan lamanya berdiri pada hari kiamat nanti, ini tidak seberapa”. (Shiffah ash Shafwah).

14. Kemuliaan Sejati Bagi Seorang Mukmin.

Dari Sahl bin Sa’ad; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

” أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ “

Jibril ‘alaihissalam mendatangiku dan berkata: “Wahai Muhammad hiduplah sesukamu karena pasti kamu akan mati juga, cintai yang kamu mau karena kamu akan meninggalkannya juga, lakukan apa yang kamu mau karena kamu akan mendapat balasannya”, kemudian berkata lagi: “Ya Muhammad .. kemuliaan seorang mukmin adalah salatnya di malam hari, dan keagungannya dengan merasa cukup dari bantuan manusia”. [HR Baihaqi]

15. Penyebab Untuk Tetap Istiqomah.

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ﴿٤٥﴾

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (Surah Al Baqarah : 45)

“Ketika berlalu masa yang panjang dan segala kemampuan telah dicurahkan, terkadang kesabaran pun menjadi lemah. Entah itu kesabaran dalam menjalankan ketaatan, Kesabaran atas lambatnya pertolongan, Kesabaran atas jauhnya jarak, Kesabaran atas banyaknya orang melakukan kebathilan, Kesabaran atas sedikitnya orang yang menolong Islam, Kesabaran atas nafsu yang cenderung menyimpang. Sholat adalah sumber yang akan memperbarui kekuatan dan bekal yang senantiasa menyertai hati. Sholat dapat memperpanjang dan mengokohkan tali kesabaran sehingga tidak akan putus. Sholat akan menambah keceriaan, ketenangan, kepercayaan dan keyakinan pada kesabaran tersebut” (Tafsir Fi Zhilaal Al Qur’an, Sayid Quthb)

16. Tidak dicatat sebagai orang yang lalai, dicatat sebagai orang yang selalu taat, dan dicatat sebagai orang yang menerima pahala yang sangat besar.

Dari Abdullah bin ‘Amr; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الغَافِلِينَ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ القَانِتِينَ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ المُقَنْطِرِينَ»

“Barangsiapa yang salat dengan membaca 10 ayat maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai, dan barangsiapa yang salat dengan membaca 100 ayat maka ia dicatat sebagai orang yang selalu taat, dan barangsiapa yang salat dengan membaca 1000 ayat maka ia dicatat sebagai orang-orang yang menerima pahala yang sangat besar. (Sunan Abu Daud: Sahih)

Dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«مَنِ اسْتَيْقَظَ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا، كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتِ»

“Barangsiapa yang bangun di malam hari dan membangunkan istrinya, kemudian keduannya salat dua raka’at berjama’ah, maka keduannya dicatat sebagai orang-orang yang banyak berzikir. (Sunan Abu Daud: Sahih)

Demikianlah keutamaan-keutamaan yang diperoleh ketika kita menegakkan qiyamul lail. Meski ada keutaman-keutamaan lain yang tidak dituliskan disini, namun bagian-bagian diatas, insya Allah memmotivasi kita untuk istiqomah menegakkannya.

Tulisan ini merupakan sebagian dari tulisan tentang qiyamul lalil, merupakan materi yang disampaikan pada taklim di Rohis 8 Pekanbaru. Karena permintaan ‘seseorang’ maka tulisan ini diupload di blog sederhana ini. Kiranya bisa bermanfaat bagi yang memerlukan.

Manusia tempat khilaf dan lupa, maka jika ada Koreksi, masukan/saran dan perbaikan mohon hubungi yang menyusunnya atau email : ersis@ymail.com atau @rudisisyanto atau ke SMAN 8 Pekanbaru

Demikianlah.,…

2 Tanggapan

  1. Dahulu Imam Bukhari berdiri (menunaikan) shalat tahajud waktu malam, maka beliau membaca antara separuh atau sepertiga Al-Qur’an. Sehingga beliau dapat menghatamkan waktu malam pada setiap tiga malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: