Tentang Infaq-infaq Yang Diumumkan

photo berinfaqTulisan ini pindahan dari sepenggal.com

Tulisan ini didasari dari bincang-bincang pada suatu pagi dengan seorang guru juga; berkaitan dengan infaq-infaq atau sedekah sedekah atau bantuan-bantuan yang diumumkan. Bagaimana hukumnya? dengan masalah niat? dengan masalah riya? dengan sum’ah? Ada pernah dicontohkan nggak di zaman Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam. Dan lain-lain. Begitulah. Tulisan ini sebenarnya cuma mencoba merekapi dialog yang terbatas waktunya itu, itupun nggak semua. Mudah-mudahan bisa bermanfaat.

“Apa saja yang kamu nafkahkan atau nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zhalim tidak ada seorang penolongpun baginya. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan darimu sebagian ke-salahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 270-271).

Kalau kita lihat ayat ini, ayat ini menerangkan bahwa penilaian bagi orang yang bersedekah itu berkisar dari 2 nilai, yaitu:

  • nilai baik sekali (jika kamu menampakkan sedekahmu) dan
  • lebih baik (jika kamu menyembunyikannya).

Ayat ini juga menerangkan bahwa masalah ganjaran itu hanya Allah yang memberikan, baik sedikit ataupun banyak (dari apa saja yang kamu nafkahkan…). Yang jelas ganjaran bagi orang yang bersedekah adalah memperoleh kebaikan, yaitu banyaknya balasan baik dan pahala, dan tertolaknya kejahatan atau musibah dunia dan akhirat dengan penghapusan dosa-dosa, Allah akan menghapuskan (menutupkan) darimu sebagian kesalahan-kesalahanmu.

Bagaimana lembutnya Allah mengabarkan kepada kita bahwa perilaku kita menyembunyikan sedekah itu lebih baik dari pada menampakkannya jika kita memberikannya kepada orang yang fakir, karena bisa jadi dengan menyembunyikannya maka akan terjaga kehormatan orang yang kita berikan. Namun jika untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan yang berkaitan dengan kemaslahatan ummat, seperti untuk pembangunan musholla disini, maka sebaiknya diumumkan agar bisa menghindari fitnah sehingga kegiatan yang kita lakukan dengan kegiatan bantuan orang lain itu bisa transparan, akuntabel, dan bisa memotivasi orang untuk ikut berbuat baik serta terhindar juga dari tuduhan tindakan pencucian uang (hmm…)

Sedikit atau banyak sedekah kita, itu disesuaikan dengan kadar kesanggupan kita, sebagaimana kisah berikut,

Suatu saat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memotivasi para shahabat untuk berinfaq dalam perang Tabuk, dengan ganjaran yang besar di sisi Allah Ta’ala. Maka berinfaqlah para shahabat, seperti Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Abdurrahman bin Hubab menceritakan tentang infaq Utsman, beliau berkata :

“Aku menyaksikan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi para shahabat dalam Jaisy Al ‘Usrah (yaitu Perang Tabuk), maka Utsman bin Affan berdiri dan berkata,

‘Wahai Rasulullah! Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di jalan Allah!’.

Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memotivasi lagi, dan Utsman kembali berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Aku akan memberikan 200 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di jalan Allah!’.

Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memotivasi lagi, dan Utsman kembali berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah! Aku akan memberikan 300 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di jalan Allah!’.

Maka aku melihat Rasulullah turun dari mimbar dan berkata, ‘Tidak ada bagi Utsman sesuatu yang akan menimpanya setelah ini, tidak ada bagi Utsman sesuatu yang akan menimpanya setelah ini’. (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi)

Dari Abdurrahman bin Samurah radhiyallaahu ‘anhuma beliau berkata

“Utsman bin Affan datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa 1000 dinar dalam kantong pakaiannya, ketika itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tengah mempersiapkan pasukan dalam Jaisy Al ‘Usyrah, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menerimanya dan berkata, ‘Tidak ada yang dapat membahayakan Ibnu ‘Affan setelah hari ini (yaitu jaminan surga atas Utsman radhiyallaahu ‘anhu)’, beliau mengulang-ulang perkataan ini” (HR Ahmad).

Nah, hadits diatas, bukankah memberikan contoh tidak ada salahnya kalau kita memberitahukan apa yang telah kita berikan (infakkan/sedekahkan); dan Rasululloh shollallohu ‘alaihi wassalam tidak ada melarangnya, bahkan malah memberikan pujian kepada yang berbuat baik.

Adapun Umar bin Khattab, beliau bershadaqah dengan separuh hartanya, dan beliau mengira itu bisa mengalahkan Abu Bakar, radhiyallahu ‘anhuma. Al Faruq sendiri yang menceritakan, beliau berkata,

“Rasululllah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami pada suatu hari untuk bershadaqah, dan waktu itu aku tengah memiliki sejumlah harta, maka aku berkata, ‘Kalau ada satu hari dimana aku bisa mengalahkan Abu Bakar, inilah harinya”. Maka aku datang dengan membawa separuh dari hartaku, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apa yang engkau nafkahkan kepada keluargamu?’, aku jawab, ‘Sejumlah itu (karena beliau membagi separuh hartanya)’.

Kemudian datang Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu membawa semua yang ia miliki, dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’,

Abu Bakar menjawab, ‘Aku tinggalkan untuk mereka, Allah dan Rasul-Nya’.

Aku (Umar)pun berkata, ‘Tidak akan pernah aku mengalahkan Abu Bakar selama-lamanya’”. (Sunan Abi Daud)

DIriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf berinfaq dengan 2000 dirham, dan itu adalah separuh dari harta yang beliau miliki saat itu, untuk keperluan perang Tabuk

Juga diriwayatkan bahwa shahabat lainnya berinfaq dalam jumlah yang besar, seperti Al ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Muhammad bin Maslamah, dan ‘Ashim bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhum.

Para shahabat yang berasal dari golongan fuqara’ juga menyumbangkan apa yang mereka miliki. Hal ini menjadi bahan sindiran dan ejekan kaum munafiqin. Alkisah, Abu ‘Uqail datang dengan membawa setengah sha’ kurma, kemudian kaum munafiqin datang dengan membawa infaq yang lebih banyak, dan berkata, “Sungguh Allah tidak butuh atas shadaqah sesedikit itu, tidaklah orang berinfaq sedemikian rupa melainkan hanya untuk riya’”. Kemudian turun ayat :

“(orang-orang munafik itu) Yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (Surah At Taubah :79)

Jadi janganlah kita menjadi seperti orang munafik; yang hanya bisa mengolok-olok sahabat Rasulullah yang bersedekah. Kepada Abdurrahman bin Auf yang bersedekah banyak, mereka tuduh bahwa Abdurrahman bin Auf ingin pamer dan riya’; sedangkan kepada Abu Aqil Abdurrahman bin Tijan yang bersedekah satu sho’ kurma, mereka ejek dengan kata-kata bahwa Allah tidak membutuhkan sedekah yang cuma segitu.

Abdurrahman bin Auf bersedekah banyak karena Allah melebihkan rezekinya dibanding sahabat-sahabat yang lain; sedangkan Abu Aqil Abdurrahman bin Tijan bersedekah dengan ‘hanya’ satu sho kurma karena Allah sedang mengujinya dengan hidup yang serba kekurangan. Yang meskipun kekurangan, sang Abu Aqil berusaha bekerja siang malam untuk dapat bersedekah. Karena semuanya ingin memenuhi panggilan dari Allah melalui RasullNya.

Masalah keikhlasan atau ke-riya’an orang yang bersedekah, janganlah kita yang menilai. Jangan menjadi seperti orang munafik, yang mengomentari orang yang berbuat baik dan merasa tahu dengan isi hati orang yang berbuat baik. Karena kita hanya bisa menghukumi apa yang terlihat di luar saja, sedangkan yang tidak nampak (masalah motivasi hati) biarkanlah Allah yang menilainya.

Jangan lah kita berbuat zhalim, yaitu orang yang meletakkan sesuatu pada bukan pada tempatnya. Sudah jelas-jelas bahwa yang menilai isi hati itu hanya manusia tersebut dan Allah; jangan kita ambil hak Allah sebagai penilai. Karena sesungguhnya, orang-orang yang berbuat zhalim tidak ada seorang penolongpun baginya.

Ingatlah kita tidak akan pernah mengetahui isi hati seseorang, akan tetapi kita hanya bisa secara zhahirnya saja. urusan hati, kita kembalikan kepada individu masing-masing.

‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu mengatakan : “Barangsiapa menampakkan kebaikan, kami akan mencintainya meskipun hatinya berbeda dengan itu. Dan orang yang menampakkan kejelekannya, kami akan membencinya meskipun ia mengaku bahwa hatinya baik”.

Yang jelas, berbuat baik sajalah kita dan sudahkah kita bersedekah hari ini?
“Dan belanjakanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah (2):195)

Wallahu a’lam bish showab….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: