Qiyamul Lail (4) : Bagaimana Orang Terdahulu Melakukannya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Tulisan kali ini melanjutkan keutamaan-keutamaan qiyamul lalil sebagaimana tulisan sebelumnya Qiyamul Lail (3) : Ada Apa Dengan Qiyamul Lail 8 ~ 16.  Berikut beberapa nukilan dari banyak kitab/buku; bagaimana para pendahulu kita, barisan orang-orang sholeh untuk menegakkan qiyamul lail, berisikan juga bagaimana mereka-mereka mensiasati keadaan agar istiqomah dalam melaksanakan qiyamul lail ini.

*****

Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa tatkala orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu justru mulai bangun untuk shalat tahajjud, sehingga terdengar seperti suara dengungan lebah Baca lebih lanjut

Iklan

Mengapa Mesti Marah? (bagian 2)

Jika kita sudah mencoba menahan diri untuk tidak meluahkan emosi marah kita, namun tetap saja godaan untuk marah itu sulit dihindari, maka pada saat awal marah masuk, cobalah untuk mengingat beberapa hal dibawah ini agar ketika marah kita masih bisa mengendalikan diri, jangan sampai emosi marah kita yang mengendalikan diri kita. Dikhawatirkan karena marah itu berasal dari syaithan, – sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud “Sesungguhnya marah-marah dari Setan, dan sesungguhnya setan diciptakan dari api…” maka jangan-jangan syaithan pula yang mengendalikan diri kita. Saat marah begitu menggoda, maka yang bisa kita lakukan adalah: Baca lebih lanjut

Mengapa Mesti Marah? (Bagian 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Marah? Siapakah yang tidak pernah tergoda untuk marah? Ketika disaat kita ingin belajar serius ada yang mengganggu. Ketika kita ‘hanya’ mendapatkan nilai ‘secukupnya’ setelah kita belajar sepenuh hati – sementara teman yang tidak belajar malah mendapatkan nilai tinggi karena pintarnya mereka ‘berinteraksi dan berkolaborasi’. Ketika kita sedang mencoba menjelaskan sesuatu pelajaran, sementara sebagian (yang umumnya jarang mendapatkan nilai ‘bagus’) malah ‘menganiaya’ kita dengan bermain-main dan melakukan hal yang tidak perlu. Ketika kita ingin beristirahat, ternyata malah ada yang ingin mencoba ‘mengganggu’ dengan meminta tolong untuk menjelaskan atau melakukan sesuatu. Ketika melihat jawaban ujian peserta didik banyak yang tidak sesuai dengan materi yang telah kita jelaskan. Ketika sedang berlibur malah diberi tugas macam-macam. Ketika kita lagi menjalankan program yang telah diputuskan bersama, tidak ada teman-teman yang menolong kerja-kerja itu. Ketika berharap sesuatu dari tulisan di blog ini, ternyata malah tidak ada apa-apanya. Ketika, ketika …

Lantas apa sebenarnya marah itu? Marah sebenarnya Baca lebih lanjut

Antara Kecerdasan dan Kepintaran; Yang Manakah Kita? *)

Pagi ini (senin, 18 Januari 1010) , saya diamanahi untuk memberikan amanat tentang Iptek; meski sebenarnya memilih saya untuk membawakan masalah iptek bukanlah pilihan yang tepat. Dan saya memohon maaf karena bisa jadi amanah ini tidak akan tersampaikan dengan baik oleh saya pada hari ini. Karena saya tidak akan mengulas tentang apa itu iptek, saya hanya menyampaikan  tentang dua hal; yang saya pikir berkaitan juga sedikit dengan iptek tersebut. Dua hal itu adalah tentang Kepintaran dan Kecerdasan.

Kita mulai dengan mendefinisikan Kepintaran. Kepintaran adalah Baca lebih lanjut

Sepenggal Harap Di Awal Semester…

Hingga saat ini kita mungkin masih dapat tersenyum dengan pagi. Pagi yang datang memeluk semesta dengan kehangatan, memberikan harapan yang penuh akan gambaran masa depan. Pagi yang dengan lembut menggegaskan kita agar segera melangkah memunguti curahan rahmat-Nya. Meskipun pagi tidak selalu identik dengan riuhan Baca lebih lanjut

Kini Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan….

jendela

Kini sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tanpa terasa sudah dua puluh lima hari ‘ia’  menemani kita. Meski kita sering mengacuhkan, toh ‘ia’ dengan kesabaran penuh tetap menunggu agar kita masih sudi membuka hati kita padanya. Meski kita mungkin sudah tidak sabaran menunggu ‘ia’ pergi, ‘ia’ dengan senyum tetap menunggu kita memeluknya. Meski kita mungkin membiarkan ia menunggu didepan rumah, tapi dengan penuh kesabaran ‘ia’ tetap selalu berharap agar ‘ia’ diizinkan memasuki rumah kita – untuk memberi kehangatan dan keberkahan. Ramadhan akan segera meninggalkan kita, tapi toh kita masih banyak terlambat menyadarinya. Tapi ‘ia’ tetap tersenyum.

Kini sepuluh hari terakhir Ramadhan. Baca lebih lanjut

Beginilah harapan

Beginilah manusia, ia begitu lemah. Ia bisa begitu rapuh, menangis, lunglai dan tak berdaya menahan sulitnya terpaan hidup. Tapi sebenarnya disanalah keunikan dan keistimewaan kehidupan manusia. Manakala ia menyadari kelemahan dirinya, seharusnya ia bergegas mencari tempat berpijak. Seharusnya ia bersegera mencari tempat bersandar. Selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan hidup, tempat bersandar dan berpijak yang paling kokoh dan merupakan sumber kekuatan Yang Maha Besar adalah Allah Subhana Wa Ta’ala, kekuatan itu hakikatnya milik Allah. Pada-Nya lah kita selalu bersandar, memohon tambahan kekuatan. Itulah harapan.
Baca lebih lanjut